Home
Login.
Artikelilmiahs
47262
Update
TATA ARMEY LISA
NIM
Judul Artikel
Analisis Isi Kekerasan Seksual terhadap Anak di Pesantren pada Berita Online Tribunnews.com Periode 2018-2023
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik korban dan pelaku, hubungan antara pelaku dengan korban, bentuk, modus dan dampak kekerasan seksual terhadap anak di pesantren yang diberitakan pada laman Tribunnews.com periode 2018-2023. Sampel diambil menggunakan teknik quota sampling dengan sampel sebanyak 100 berita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin pelaku sebanyak 100% adalah laki-laki, sedangkan mayoritas korban adalah perempuan (68%). Selanjutnya, kategori usia korban sebagian besar berusia 13-17 tahun (49%) dan kategori usia pelaku sebanyak (21%) tidak diberitakan, lalu pada urutan kedua yaitu pelaku berada pada rentang usia 34-39 tahun (18%). Selain itu, sebagian pelaku memiliki hubungan dengan korban sebagai pimpinan atau pengasuh di pesantren (62%). Adapun bentuk kekerasan seksual di pesantren yang paling banyak dilakukan yaitu pemaksaan persetubuhan (47%). Kemudian, modus yang sering digunakan oleh pelaku yaitu bujuk rayu (26%). Serta, korban kekerasan seksual umumnya mengalami trauma mendalam pasca kejadian (17 %). Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa mayoritas korban adalah perempuan dan keseluruhan pelaku adalah laki-laki. Kategori usia remaja mendominasi sebagai korban sedangkan kategori usia dewasa mendominasi sebagai pelaku. Mayoritas pelaku sebagai pimpinan atau pengasuh di pesantren. Kemudian bentuk kekerasan seksual yang paling umum yaitu pemaksaan persetubuhan. Selain itu, mayoritas pelaku menggunakan modus bujuk rayu. Serta, dampak kekerasan seksual terhadap anak cenderung tidak diberitakan pada laman Tribunnews.com. Rekomendasi dari penelitian ini adalah bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengkaji fenomena kekerasan seksual di lembaga pendidikan khususnya pesantren lebih dalam lagi, seperti memaparkan kondisi sosial budaya pesantren yang dapat mendorong terjadinya kekerasan seksual di pesantren.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The study aims to determine the characteristics of victims and perpetrators, the relationship between perpetrators and victims, the form, mode and impact of sexual violence against children in pesantren reported on the Tribunnews.com page for the 2018-2023 period. The sample was take using the quota sampling technique with a sample of 100 news. The results showed that the gender of the perpetrators was 100% male, while the majority of victims were famale (68%). Furthermore, the victim’s age category is mostly 13-17 years old (49%) and the perpetrator’s age category (21%) is not reported, then in second place, the perpetrators is in the age range of 34-39 years (18%). In addition, some perpetrators had a relationship with the victims as a leader or caregiver in the pesantren (62%). The most common form of sexual violence in pesantren is forced intercourse (47%). Then, the mode often used by perpetrators is seduction (26%). Also, victims of sexual violence generally experience deep trauma after the incident (17%). Based on the results of the study, it can be concluded that the majority of victims are famale and all perpetrators are male. The teenage age category dominates as victims while the adult age category dominates as perpetrators. Then the most common form of sexual violence is forced intercourse. In addition, the majority of perpetrators usw the mode of seduction. Also, the impact of sexual violence againts children tends not to be reported on the Tribunnews,com page. The recommendation from this study is that future researchers are expected to examine the phenomenon of sexual violence in educational institutions, especially pesantren, more deeply, such as describing the socio-cultural conditions of pesantren that can encourage sexual violence in pesantren.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save