Home
Login.
Artikelilmiahs
46646
Update
ADELIA FADYA PRIYANTO
NIM
Judul Artikel
Kekerasan Simbolik Pada Anime Uramichi Oniisan (Perspektif Pierre Bourdieu)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini mengkaji kekerasan simbolik dalam anime Uramichi Oniisan dari perspektif Pierre Bourdieu. Latar belakang penelitian berfokus pada interaksi sosial yang menyimpan kekerasan tersembunyi dalam konteks budaya kerja Jepang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk dan mekanisme kekerasan simbolik yang terdapat dalam anime Uramichi Oniisan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan analisis mendalam terhadap dialog dan gambar dalam anime. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan simbolik dalam anime ini terjadi dalam berbagai bentuk dominasi halus yang terbagi dalam tiga kategori interaksi: atasan-bawahan, antar rekan kerja, dan pembawa acara-anak. Bentuk kekerasan ini meliputi pemberian perintah semena mena, pemaksaan kehendak, penentuan konsep dan jadwal acara tanpa pertimbangan pembawa acara, pemaksaan dan intimidasi, eksploitasi peran, pengaturan jalannya acara dan pemaksaan nilai-nilai dewasa pada anak-anak. Mekanisme kekerasan simbolik pada anime ini bekerja melalui eufemisasi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study examines symbolic violence in the anime Uramichi Oniisan from the perspective of Pierre Bourdieu. The background of the research focuses on social interactions that conceal hidden violence within the context of Japanese work culture. The aim of this study is to identify the forms and mechanisms of symbolic violence present in Uramichi Oniisan. The research method used is qualitative, involving in-depth analysis of the dialogues and visuals in the anime. The results show that symbolic violence in this anime occurs in various forms of subtle domination, categorized into three interaction types: superior-subordinate, between coworkers, and host-child. These forms of violence include arbitrary commands, coercion of will, determining concepts and schedules without considering the host's input, as well as coercion and intimidation, role exploitation, event management, and imposing adult values on children. The mechanism of symbolic violence in this anime operates through euphemization.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save