Home
Login.
Artikelilmiahs
45911
Update
NARASTRY BALQUIS SHANIA
NIM
Judul Artikel
Preferensi Konsumen Beras Organik di Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Sektor pertanian di Indonesia menggunakan dua sistem tanam utama: organik dan anorganik. Sistem pertanian organik, yang ramah lingkungan, menghasilkan beras organik dengan nilai jual lebih tinggi karena bebas dari bahan kimia. Untuk meningkatkan pemasaran beras organik, pelaku usaha perlu memahami kebutuhan dan preferensi konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui karakteristik konsumen beras organik di Kabupaten Banyumas; 2) Menilai kepentingan atribut beras organik menurut preferensi konsumen; dan 3) Menganalisis preferensi konsumen terhadap berbagai atribut beras organik. Penelitian dilakukan dari Februari hingga Mei 2024 dengan 97 responden yang dipilih secara accidental sampling. Kriteria sampel adalah berusia di atas 17 tahun, berdomisili di Kabupaten Banyumas, telah membeli atau mengonsumsi beras organik minimal tiga kali, dan merupakan pengambil keputusan pembelian rumah tangga. Metode analisis mencakup analisis deskriptif, uji validitas, uji reliabilitas, analisis Chi-Square (X²), dan analisis multiatribut Fishbein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumen beras organik di Banyumas didominasi oleh perempuan usia 26-35 tahun, tinggal dekat Purwokerto, berpendidikan sarjana, bekerja sebagai karyawan, berpendapatan Rp3.500.001 – Rp4.000.000, dan memiliki keluarga empat orang. Konsumen membeli beras organik dua hingga tiga kali sebulan, dengan pembelian lebih dari 2 kg. Merek populer termasuk Puregreen, Hotel, dan MD rice. Atribut terpenting bagi konsumen adalah kebersihan, kandungan gizi, harga, rasa, label organik, daya tahan, dan tekstur beras, daya tahan nasi, ukuran dan desain kemasan beras, aroma nasi, dan warna beras. Kebersihan dan kandungan gizi dianggap yang paling baik, dengan sikap konsumen terhadap atribut beras organik umumnya positif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study conducted from February to May 2024 with 97 respondents in Banyumas Regency, aimed to analyze consumer characteristics and preferences for organic rice. The research used accidental sampling, focusing on individuals over 17 years who had purchased organic rice at least three times and were household decision-makers. Analytical methods included descriptive statistics, validity and reliability tests, Chi-Square analysis, and Fishbein multiattribute analysis. Findings revealed that the typical consumer of organic rice in Banyumas Regency is a woman aged 26-35, residing within 9 km of Purwokerto City, with a bachelor’s degree, employed, and earning IDR 3,500,001 - IDR 4,000,000, living in a household of four. Consumers typically bought organic rice two to three times a month, purchasing over 2 kg each time. Popular rice brands included Puregreen, Hotel, and MD rice, with purchases mainly made at supermarkets and information sourced from social media. The attributes of organic rice, ranked by importance according to consumers, included cleanliness of the rice, nutritional content of the rice, price of the rice, taste of the cooked rice, official organic labeling, shelf life of the rice, texture of the rice, place of purchase, color of the rice, aroma of the cooked rice, and size and design of the rice packaging. Consumers generally held positive attitudes toward these attributes, with rice cleanliness and nutritional content being particularly significant. This information is crucial for farmers, marketers, and producers to align their products with consumer preferences and improve market appeal.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save