Home
Login.
Artikelilmiahs
4588
Update
NUR PRABOWO
NIM
Judul Artikel
EVALUASI TERHADAP PEMANFAATAN LIMBAH TERNAK SAPI MENJADI BIOGAS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF (Studi Kasus Di Desa Cikendung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini merupakan penelitian mengenai pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas oleh masyarakat yang berada di Desa Cikendung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang. Penelitian ini mengambil judul : “Evaluasi Terhadap Pemanfaatan Limbah Ternak Sapi Menjadi Energi Alternatif Biogas (Studi Kasus di Desa Cikendung, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang)” Meningkatnya kebutuhan rumah tangga akan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang diiringi dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk setiap tahunnya, seperti halnya pada tahun 2010 mencapai 237.641.326 jiwa, menyebabkan produksi BBM di Indonesia juga mengalami penurunan dan yang terjadi adalah semakin terbatasnya jumlah BBM di Indonesia. Hal tersebut membuat Indonesia membutuhkan energi alternatif sebagai pengganti BBM. Salah satunya adalah energi alternatif berupa biogas dari limbah ternak sapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat terhadap pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas, mengetahui tentang keuntungan dan kerugian dari pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi bahan bakar berupa biogas, mengetahui perbandingan biaya energi yang harus dikeluarkan oleh rumah tangga setiap bulan antara kayu bakar, LPG, dan biogas, serta mencari faktor apa saja yang menghambat dalam pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas. Pengambilan sampel menggunakan metode sensus sebanyak 61 responden dengan kriteria antara lain: warga yang masih memelihara sapi dan masih memanfaatkan limbah ternak sapinya menjadi biogas, warga yang masih memelihara sapi tetapi sudah tidak memanfaatkan limbah ternak sapinya menjadi biogas, warga yang tidak memiliki sapi dan sudah tidak menggunakan biogas karena instalasi yang rusak, serta warga yang memelihara sapi tetapi tidak memanfaatkan limbah ternak sapinya menjadi biogas. Berdasarkan hasil penelitian, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa: (1) Partisipasi masyarakat Desa Cikendung terhadap pemanfaatan limbah ternak sapi menjadi biogas kurang optimal. Dari yang semula dibangun 40 unit instalasi biogas sekarang hanya tinggal 1 unit yang masih dimanfaatkan, (2) Keuntungan menggunakan biogas sebagai bahan bakar dalam aktifitas memasak adalah dapat memanfaatkan limbah ternak sapi yang menumpuk, dapat menghemat biaya pengeluaran terhadap bahan bakar, dan lebih hemat dari Liquified Petrolium Gas (LPG). Sedangkan kerugiannya adalah proses pengolahan limbah yang merepotkan, serta gas yang dihasilkan menimbulkan bau yang tidak sedap. (3) Biogas tidak lebih hemat dibandingkan dengan bahan bakar lain seperti kayu bakar dan LPG, (4) Faktor lain yang menghambat dalam menggunakan biogas adalah berupa biaya komponen instalasi yang rusak. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu: (1) Sebelum memberikan bantuan berupa pembangunan instalasi biogas di Desa Cikendung perlu dilakukan survei dari pihak pemerintah (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang) mengenai bagaimana kondisi daerah dan perilaku masyarakat yang ada, serta memberikan penyuluhan agar pelaksanaan pemanfaatan biogas dapat berjalan dengan efektif. (2) Dibutuhkan teknologi untuk mengatasi kerugian dalam pemanfaatan biogas oleh masyarakat di Desa Cikendung dalam hal pengolahan limbah ternak sapi menjadi biogas dan bau gas yang tidak sedap. (3) Penggunaan reaktor jenis balon merupakan pilihan yang tepat karena akan lebih menghemat pengeluaran pemerintah. (4) Untuk dapat memantau bagaimana aktifitas pemanfaatan biogas di Desa Cikendung dapat berjalan secara optimal, dibutuhkan adanya penempatan staf dari pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Pemalang.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research is about the using of the cattle’s waste into biogas by the people of Cikendung Village, the district of Pulosari, Pemalang. The title of this research is “Evaluation of Cattle’s Waste Utilization into Alternative Energy of Biogas (Case Study in Cikendung Village, District of Pulosari, Pemalang)” Household needed of fuel was increasing, it’s followed by the increasing of population growth which is increased year by year. On 2010 the population growth reaching 237.641.326 people, it causing the fuel production in Indonesia decrease and the number of fuel is getting limit in Indonesia. Indonesia needs alternative energy to replace fuel. One of the alternative energy is biogas that made from cattle’s waste. The purpose of this research is to know the level of community participation to use of cattle’s waste into biogas, and to know about the advantage and disadvantage of using cattle’s waste into biogas, to know the comparation of energy costs that spend every month between firewood, LPG and biogas, as well as to find the inhibition factors of the using of cattle’s waste into biogas. Samples are taken using sensus method. The subjects are 61 respondents with the following criteria: the community who keep the cow and still using the cattle’s waste of their cows into biogas, the community who keep their cows but hasn’t use the cattle’s waste into biogas anymore, the community who didn’t have cows and didn’t use biogas because of the installation which is broken, and the community who keep the cows but didn’t use the cattle’s waste into biogas. Based on the result, the conclusion are: (1) participation of the community of Cikendung village on the using of cattle’s waste into biogas are less than optimal. From 40 units of biogas installation into 1 unit that is still used, (2) the benefit of using biogas as fuel in cooking activity are using cattle’s waste that accumulated, decreasing waste, saving the fuel costs and biogas is more safety than LPG.. Whereas the disadvantage are the waste process is difficult to do, and the gas which is produced by the waste is have an unpleasant smell. (3) biogas isn’t more efficient than fuel as firewood and LPG, (4) the others inhibition factor that using biogas is the expensive cost to fix the broken installation. The implication of the conclusion above are: (1) the goverment (the Department of Agriculture and Forestry, Pemalang) have to survey the condition of the place and community behavior before the goverment gives some help to build the biogas installation in Cikendung village, and the goverment have to give some education in other the intervention of using the biogas could run effectively. (2) The technology is needed to solve the disadvantage in using cattle’s waste into biogas and the unpleasant smell from the gas. (3) the using of ballon reactor is the right choice because it can saving the goverment costs. (4) to monitor how is the activity of using biogas in Cikendung village can be optimized, it takes the placement of the staff of the Department of Agriculture and Forestry Pemalang.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save