Home
Login.
Artikelilmiahs
45423
Update
LINA NOOR EVITASARI
NIM
Judul Artikel
KARAKTER ANATOMI DAN KANDUNGAN FLAVONOID TAPAK LIMAN (Elephantopus scaber L.) BERDASARKAN KETINGGIAN TEMPAT TUMBUH
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tapak liman (Elephantopus scaber L.) merupakan tumbuhan liar yang dapat tumbuh pada berbagai ketinggian sampai 1200 mdpl. Faktor lingkungan seperti perbedaan ketinggian tempat mempengaruhi karakter anatomi tumbuhan sehingga berpengaruh pada ukuran stomata, tebal kutikula, struktur epidermis, mesofil, serta jaringan lain. Tapak liman bermanfaat sebagai obat herbal karena mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan eksogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakter anatomi daun dan kandungan flavonoid tapak liman berdasarkan ketinggian tempat tumbuh. Penelitian dilakukan dengan metode survei, sedangkan pengambilan sampel daun tapak liman secara purposive random sampling. Pengambilan sampel dilakukan pada 3 ketinggian berbeda, yaitu Karangwangkal (0-400 mdpl), Baturraden (401-800 mdpl), dan Kedungbanteng (800-1200 mdpl). Penelitian dilakukan pada bulan Maret–Juli 2024. Ketinggian tempat sebagai variabel bebas, karakter anatomi dan kandungan flavonoid tapak liman sebagai variabel terikat. Parameter yang diamati meliputi panjang stomata, lebar stomata, kerapatan stomata, indeks stomata, tebal kutikula, tebal epidermis, tebal mesofil, rasio palisade, dan kandungan flavonoid tapak liman. Pengamatan karakter anatomi daun menggunakan preparat segar dan preparat awetan dengan metode embedding yang dimodifikasi. Pengukuran kandungan flavonoid total menggunakan standar kuersetin dan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 435 nm. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan ANOVA pada taraf uji 5%, dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey pada taraf uji 5% menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketinggian tempat berpengaruh nyata terhadap panjang stomata adaksial dan berpengaruh sangat nyata terhadap lebar stomata pada dataran rendah (0-400 mdpl), serta berpengaruh nyata terhadap tebal kutikula pada dataran tinggi (801-1200 mdpl). Ketinggian tempat juga berpengaruh nyata terhadap kandungan flavonoid pada dataran rendah (0-400 mdpl).
Abtrak (Bhs. Inggris)
Tapak liman (Elephantopus scaber L.) is a wild plant that can grow at various heights up to 1200 masl. Environmental factors such as differences in altitude affect the anatomical characters of plants, which are involved in plant metabolism. Tapak liman is useful as a herbal medicine because it contains a number of metabolite compounds. Flavonoid compounds function as exogenous antioxidants. This study aims to determine differences in leaf anatomical characteristics and flavonoid content of tapak liman based on the height of the growing location.The research was carried out using a survey method, while sampling of tapak liman leaves was purposive random sampling. Sampling was carried out at 3 different heights, namely Karangwangkal (0-400 masl), Baturraden (401-800 masl), and Kedungbanteng (800-1200 masl). The research was conducted in March–July 2024. Altitude was the independent variable, anatomical characteristics and the flavonoid content of the tapak liman were the dependent variables. The parameters observed included stomata length, stomata width, stomata density, stomata index, cuticle thickness, epidermis thickness, mesophyll thickness, palisade ratio, and flavonoid content of the tapak liman. Observation of leaf anatomical characters using fresh preparations and preserved preparations with a modified embedding method. Total flavonoid content was measured using the quercetin standard and absorbance was measured using UV-Vis spectrophotometry with a wavelength of 435 nm. The observation data were analyzed using ANOVA at a test level of 5%, followed by Tukey's further test at a test level of 5% using SPSS. The results showed that altitude had a significant effect on the length of adaxial stomata and a very significant effect on the width of stomata in the lowlands (0-400 masl), and a significant effect on the thickness of the cuticle in the highlands (801-1200 masl). Altitude also had a significant effect on flavonoid content in the lowlands (0-400 masl).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save