Home
Login.
Artikelilmiahs
45402
Update
SYIFA AMALIA NASIS
NIM
Judul Artikel
KINERJA EKSPOR KOMODITAS KOPI INDONESIA KE NEGARA TUJUAN KOREA SELATAN
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan yang paling populer dikonsumsi masyarakat di dunia dan paling banyak diperdagangkan. Kopi sendiri merupakan komoditas perkebunan terbesar ke-5 di Indonesia setelah kelapa sawit, karet, kakao dan kelapa. Korea Selatan merupakan salah satu negara tujuan potensial ekspor kopi Indonesia yang menunjukkan tren impor kopi yang terus meningkat setiap tahunnya sejak akhir abad ke-20. Konsumen Korea Selatan mengimpor kopi dari Indonesia karena rasa yang khas dan hubungan kerja sama yang telah terjalin sejak tahun 1973. Analisis kinerja ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan diperlukan untuk 1) mengetahui daya saing komparatif ekspor komoditas kopi Indonesia ke negara tujuan Korea Selatan dibandingkan negara pesaing dan 2) mengetahui daya saing kompetitif dan kinerja ekspor komoditas kopi Indonesia ke negara tujuan Korea Selatan dibandingkan negara pesaing. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif melalui metode studi pustaka. Jenis data yang digunakan adalah data sekunder dengan bentuk data yang digunakan adalah data panel (pooled data). Periode waktu yang digunakan adalah tahun 2009 – 2022. Metode analisis data yang digunakan adalah metode Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) dan Export Product Dynamics (EPD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kopi Indonesia memiliki nilai RSCA lebih besar dari nol yang berarti kopi Indonesia memiliki keunggulan komparatif di negara tujuan Korea Selatan. Negara pesaing Indonesia yaitu Brasil, Guatemala, India, Uganda, dan Tanzania juga memiliki nilai RSCA lebih besar dari nol yang berarti kopi dari negara-negara tersebut juga memiliki keunggulan komparatif di negara tujuan Korea Selatan. Hasil analisis EPD menunjukkan ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan berada pada posisi pasar retreat yang mengindikasikan bahwa komoditas tersebut tidak memiliki keunggulan kompetitif di pasar Korea Selatan dan pertumbuhan permintaannya stagnan. Sehingga, ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan memiliki kinerja yang kurang baik. Sedangkan, negara pesaing Indonesia yaitu Brasil berada pada posisi pasar falling star. Adapun negara pesaing Indonesia lainnya yaitu Guatemala, India, Uganda, dan Tanzania berada pada posisi pasar rising star.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Coffee was one of the most popular plantation commodities consumed by people in the world and was the most widely traded. Coffee itself was the 5th largest plantation commodity in Indonesia after palm oil, rubber, cocoa, and coconut. South Korea was one of the potential destination countries for Indonesian coffee exports, showing a trend of coffee imports that continued to increase every year since the end of the 20th century. South Korean consumers imported coffee from Indonesia because of its distinctive taste and the cooperative relationship that had existed since 1973. Analysis of the performance of Indonesian coffee exports to South Korea was needed to 1) determine the comparative competitiveness of Indonesian coffee commodity exports to destination countries South Korea compared to competing countries and 2) determine the competitive competitiveness and performance of Indonesian coffee commodity exports to destination countries South Korea compared to competitor countries. This research used quantitative research methods with a descriptive approach through literature study methods. The type of data used was secondary data in the form of panel data (pooled data). The time period used was 2009 – 2022. The data analysis method used was the Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA) method and Export Product Dynamics (EPD). The results of this research showed that Indonesian coffee had an RSCA value more than zero, which meant that Indonesian coffee had a comparative advantage in South Korea as the destination country. Indonesia's competitor countries, namely Brazil, Guatemala, India, Uganda, and Tanzania also had RSCA values more than zero, which meant that coffee from these countries also had a comparative advantage in the destination country of South Korea. The results of the EPD analysis showed that Indonesian coffee exports to South Korea were in a retreat market position, indicating that this commodity did not have a competitive advantage in the South Korean market and the demand growth was stagnant. Thus, Indonesian coffee exports to South Korea had performed less well. Indonesia's competitor country, namely Brazil, was in a falling star market position. Meanwhile, Indonesia's other competitor countries, namely Guatemala, India, Uganda, and Tanzania, were in rising star market positions.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save