Home
Login.
Artikelilmiahs
45093
Update
DWIANA KUSUMA MAHAYATI
NIM
Judul Artikel
Campur Kode Bahasa Jawa Banyumasan di Kalangan Pengunjung dan Pegawai Warung Kopi "Robokop"
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penggunaan bahasa berpengaruh pada budaya bangsa dalam berpikir, bertindak, dan berperilaku. Campur kode adalah pemakai bahasa yang memakai beberapa bahasa berbeda dalam satu tuturan. Salah satu contoh yang peneliti ambil adalah ujaran berbagai macam bahasa atau biasa disebut dengan mixing. Secara umum, penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian secara deskriptif, bagaimana keragaman bahasa yang digunakan masyarakat di kalangan pengunjung dan pegawai di warung kopi “Robokop”. Secara khusus, tujuan penelitian ini dibuat untuk (1) mengetahui bagaimana penggunaan campur kode yang digunakan oleh masyarakat tuturan yang terjadi di lingkup warung kopi “Robokop”, dan (2) mengetahui apa saja faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan campur kode dalam lingkup warung kopi “Robokop”. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif sebagai metode penelitian dan pendekatan Sosiolinguistik. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode simak. Tahap selanjutnya yaitu peneliti menyadap dengan teknik simak bebas, yaitu peneliti hanya berperan sebagai pengamat pengguna bahasa yang dituturkan oleh informan. Berdasarkan hasil penelitian, peneliti memeroleh 20 data dari beberapa pengunjung dan karyawan di warung kopi “Robokop”, diantaranya 14 data campur kode ke dalam, 1 data campur kode ke luar, dan 5 data campur kode campuran. Peneliti juga dapat menentukan faktor-faktor penyebab terjadinya campur kode di warung kopi “Robokop”, salah satunya yaitu penutur merupakan orang yang bilingual sehingga secara tidak sengaja menggunakan dua bahasa secara bersamaan dalam satu klausa. Peristiwa tutur campur kode yang terjadi di warung kopi “Robokop” mencakup bahasa Indonesia sebagai bahasa utama, bahasa Banyumas dan bahasa Betawi sebagai bahasa daerah, serta bahasa Inggris sebagai bahasa asing.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Language use influences a nation's culture in thinking, acting, and behaving. Code-mixing occurs when language users employ several different languages in a single utterance. One example taken by the researcher is the use of various languages, commonly referred to as mixing. Generally, this study aims to understand the phenomenon experienced by the research subjects descriptively, examining the language diversity used by visitors and employees at the "Robokop" coffee shop. Specifically, the study aims to (1) determine how code-mixing is used by the speech community within the scope of the "Robokop" coffee shop, and (2) identify the factors influencing the use of code-mixing within the coffee shop. The researcher uses a descriptive qualitative method and a sociolinguistic approach. The research was conducted using the observation method. The next stage involves the researcher observing with a non-participatory technique, acting solely as an observer of the language use by the informants. Based on the research results, the researcher obtained 20 data points from several visitors and employees at the "Robokop" coffee shop, including 14 instances of internal code-mixing, 1 instance of external code-mixing, and 5 instances of mixed code-mixing. The researcher also identified factors causing code-mixing at the "Robokop" coffee shop, one of which is that the speakers are bilingual, leading them to inadvertently use two languages simultaneously in a single clause. The code-mixing events at the "Robokop" coffee shop include Indonesian as the main language, Banyumas and Betawi as regional languages, and English as a foreign language.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save