Home
Login.
Artikelilmiahs
44954
Update
FANI KUSWORO
NIM
Judul Artikel
EEFEKTIVITAS METABOLIT SEKUNDER DAN KONIDIA JAMUR ENTOMOPATOGEN Beauveria bassiana SEBAGAI AGENS PENGENDALI WERENG BATANG COKELAT (Nilaparvata lugens Stal)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Wereng batang cokelat (WBC) merupakan salah satu hama utama tanaman padi. WBC dapat menyerang berbagai tahap pertumbuhan tanaman padi dengan cara menghisap cairan sel tanaman. Selain itu WBC juga mampu menyebarkan penyakit pada tanaman padi seperti penyakit kerdil hampa yang disebabkan oleh Rice Ragged Stunt Virus (RRSV) serta penyakit kerdil rumput oleh Rice Grassy Stun Virus (RGSV). Hingga saat ini WBC belum dapat diatasi dan dikendalikan dengan insektisida kimia. Hal ini karena insektisida kimia dapat menimbulkan resistensi, resurjensi dan matinya serangga yang berguna bagi tanaman. Penelitian ini berfokus kepada pengendalian WBC dengan menggunakan jamur entomopatogen yang dapat menyebabkan penyakit pada serangga. Beauveria bassiana merupakan salah satu jamur entomopatogen yang menghasilkan konidia sebagai organ aseksual serta metabolit sekunder yang mengandung senyawa toksin seperti beauvericin, bassianin, bassianolide yang dapat menyebabkan kematian pada serangga. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan penggunaan metabolit sekunder dengan konidia jamur Beauveria bassiana dalam pengendalian WBC. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ini yakni akuades sebagai kontrol, metabolit sekunder dengan konsentrasi 5% dan 10%, konidia jamur Beauveria bassiana dengan kerapatan 108 konidia/ml, serta insektisida kimia berbahan aktif imidacloprid dengan dosis 1,5 g/l. Hasil penelitian menunjukan perlakuan metabolit sekunder konsentrasi 10% lebih baik dibandingkan dengan perlakuan konidia jamur Beauveria bassiana kerapatan 108 konidia/ml. Hal ini dapat dilihat pada hasil mortalitas yang lebih tinggi yaitu 80% , kematian WBC yang lebih cepat yaitu 6,52 hari serta intensitas serangan pada tanaman yang lebih rendah yaitu 32,8%Selain itu perlakuan metabolit sekunder konsentrasi 10% juga menujukan kerusakan tanaman yang lebih sedikit seperti pada jumlah daun (-8%),jumlah batang (-30%),panjang akar(+7%) dan tinggi bibit padi (+2%). Kata kunci — Wereng batang cokelat, Beauveria bassiana, metabolit sekunder, konidia
Abtrak (Bhs. Inggris)
Brown planthoppers (BPH) are one of the main pests of rice plants. BPH can attack various stages of rice plant growth by sucking plant cell fluids. Apart from that, BPH is also able to spread diseases in rice plants such as stunted grass caused by Rice Ragged Stunt Virus (RRSV) and stunted grass caused by Rice Grassy Stun Virus (RGSV). Until now, BPH cannot be overcome and controlled with chemical insecticides. This is because chemical insecticides can cause resistance, resurgence and death of insects that are useful for plants. This research focuses on controlling BPH using entomopathogenic fungi which can cause disease in insects. Beauveria bassiana is an entomopathogenic fungus that produces conidia as asexual organs as well as secondary metabolites containing toxin compounds such as beauvericin, bassianin, bassianolide which can cause death in insects. This study aims to compare the use of secondary metabolites with conidia of the Beauveria bassiana fungus in controlling BPH. The treatments used in this research were distilled water as a control, secondary metabolites with concentrations of 5% and 10%, conidia of the Beauveria bassiana fungus with a density of 108 conidia/ml, and chemical insecticide containing the active ingredient imidacloprid with a dose of 1.5 g/l. The results of the study showed that secondary metabolite treatment with a concentration of 10% was better than treatment with Beauveria bassiana fungus conidia with a density of 108conidia/ml. This can be seen in the results of higher mortality, namely 80%, faster BPH death, namely 6.52 days, and lower intensity of attacks on plants, namely 32.8%. In addition, secondary metabolite treatment with a concentration of 10% also shows significant plant damage. less, such as the number of leaves (-8%), number of stems (-30%), root length (+7%) and height of rice seedlings (+2%). Key words — Brown planthopper, Beauveria bassiana, secondary metabolites, conidia
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save