Home
Login.
Artikelilmiahs
44928
Update
ASTI AMANDA
NIM
Judul Artikel
Variasi Pembungaan Tanaman Air Mata Pengantin (Antigonon leptopus Hook. & Arn.) pada Beberapa Ketinggian Lokasi Budidaya Lebah Klanceng
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi pembungaan Antigonon leptopus (bunga air mata pengantin) pada berbagai ketinggian lokasi budidaya lebah klanceng (Tetragonula sp.) serta hubungan antara faktor lingkungan dengan variasi pembungaan tersebut. Metode survei digunakan untuk mengamati tanaman di tiga lokasi: Fakultas Biologi Unsoed (110,5 mdpl), Desa Kebumen (225,5 mdpl), dan Desa Serang (1.138 mdpl). Variabel yang diamati meliputi ketinggian tempat, fase pembungaan, jumlah bunga, dan diameter bunga, serta faktor lingkungan seperti suhu udara, kelembaban udara, kelembaban tanah, pH tanah, dan intensitas cahaya matahari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada ketinggian 110,5 dan 225,5 mdpl, fase pembungaan lebih cepat dengan bunga yang lebih besar dan lebih banyak dibandingkan ketinggian 1.138 mdpl, di mana fase pembungaan lebih lama dan bunga lebih sedikit serta lebih kecil. Analisis multivariat mengindikasikan ketinggian tempat mempengaruhi variasi pembungaan, sementara analisis korelasi Pearson menunjukkan suhu udara dan intensitas cahaya matahari mempercepat pembungaan dan meningkatkan ukuran bunga, sedangkan kelembaban udara memperlambat pembungaan dan mengurangi ukuran bunga. Kesimpulannya, variasi faktor lingkungan pada berbagai ketinggian signifikan mempengaruhi karakteristik pembungaan A. leptopus, dengan implikasi bahwa pengetahuan ini penting untuk merancang penyediaan pakan bagi budidaya lebah klanceng.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aims to investigate the flowering variations of Antigonon leptopus (coral vine) at different altitudes of Tetragonula sp. beekeeping locations and to understand the relationship between environmental factors and flowering variations. A survey method was used to observe plants at three locations: Faculty of Biology Unsoed (110.5 m.a.s.l.), Kebumen Village (225.5 m.a.s.l.), and Serang Village (1,138 m.a.s.l.). Variables observed included altitude, flowering phase, number of flowers, flower diameter, and environmental factors such as air temperature, air humidity, soil moisture, soil pH, and sunlight intensity. The results showed that at 110.5 and 225.5 meters above sea level, the flowering phase was faster with larger and more numerous flowers compared to 1,138 meters above sea level, where the flowering phase was longer and the flowers were fewer and smaller. Multivariate analysis indicated that altitude significantly affects flowering variation, while Pearson correlation analysis showed that higher air temperature and sunlight intensity accelerate flowering and increase flower size, whereas air humidity tends to slow down the flowering process and reduce flower size. In conclusion, variations in environmental factors at different altitudes significantly influence the flowering characteristics of A. leptopus. This knowledge is crucial for designing the provision of feed for Tetragonula sp. beekeeping.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save