Home
Login.
Artikelilmiahs
44078
Update
ADRIAN MAULANA
NIM
Judul Artikel
PENGARUH UKURAN KOTAK SARANG BERBAHAN KAYU PINUS TERHADAP PERKEMBANGAN KOLONI LEBAH Tetragonula biroi
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Salah satu lebah yang banyak dibudidaya adalah lebah tanpa sengat dari spesies Tetragonula biroi yang di pulau Jawa lebih dikenal sebagai lebah klanceng. Pada budidaya ternak T. biroi dapat dipengaruhi oleh kondisi mikrolimat seperti suhu dan kelempaban. Upaya yang tepat untuk menanggulangi masalah suhu dan kelembapan sarang T. biroi adalah dengan cara pengelolaan model sarang yang sesuai. Hal tersebut menunjukkan perlu dilakukannya penelitian terkait ukuran kotak sarang berbahan kayu pinus terhadap perkembangan koloni lebah T. biroi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ukuran kotak sarang yang baik untuk perkembangan koloni lebah T. biroi. Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimental dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan bertempat di halaman depan Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Kotak sarang yang diamati memiliki ukuran 16 x 16 x 21 cm3 (5376 cm3); 16 x 16 x 18 cm3 (4608 cm3); dan 14 x 14 x 18 cm3 (3528 cm3) dengan masing-masing ukuran sebanyak 5 kotak sarang sebagai ulangan. Parameter yang diamati yaitu jumlah sel anakan, sel polen, sel madu. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan ANOVA dan menunjukan hasil bahwa ukuran kotak berbahan kayu pinus yang digunakan dalam penelitian ini tidak memiliki pengaruh yang berbeda terhadap perkembangan sel anakan, sel polen, dan sel madu lebah T. biroi. Oleh karena itu, ukuran kotak terkecil dapat dijadikan referensi sebagai ukuran pembuatan kotak sarang dalam budidaya ternak lebah T. biroi. Hal tersebut dapat meminimalisir biaya pembuatan kotak sarang dikarenakan hasilnya yang tidak berbeda secara signifikan dengan ukuran besar dan sedang.
Abtrak (Bhs. Inggris)
One of the bees that is widely cultivated is the stingless bee of the Tetragonula biroi species, which on the island of Java is better known as the Klanceng bee. In livestock cultivation, T. biroi can be influenced by microclimatic conditions such as temperature and humidity. The right effort to overcome the problem of temperature and humidity in T. biroi nests is by managing the nest in an appropriate model. This shows the need for research regarding the size of nest boxes made of pine wood on the development of T. biroi bee colonies. The aim of this research is to determine the size of the nest box that is good for the development of T. biroi bee colonies. This research was carried out using an experimental method designed using a Completely Randomized Design (CRD) and took place in the front yard of the Faculty of Biology, Jenderal Soedirman University. The observed nest box measured 16 x 16 x 21 cm3 (5376 cm3); 16 x 16 x 18 cm3 (4608 cm3); and 14 x 14 x 18 cm3 (3528 cm3) with each size of 5 nest boxes as replications. The parameters observed were the number of daughter cells, pollen cells, honey cells. The data obtained were analyzed using ANOVA and showed that the size of the pine wood box used in this study did not have a different effect on the development of daughter cells, pollen cells and honey cells of the T. biroi bee. Therefore, the size of the smallest box can be used as a reference as a size for making nest boxes in cultivating T. biroi bees. This can minimize the costs of making nest boxes because the results are not significantly different from large and medium sizes.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save