Home
Login.
Artikelilmiahs
43445
Update
ALYA NURFIRDAUSI
NIM
Judul Artikel
Pengembangan Cookies Berbasis Tepung Umbi Porang (Amorphophallus onchopyllus) dan Tepung Kacang Koro Pedang (Canavalia ensiformis), dengan Penambahan Konsentrat Buah Naga Merah (Hylocereus polyrhizus)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Stres oksidatif adalah suatu keadaan ketika jumlah radikal bebas di dalam tubuh melebihi kapasitas tubuh untuk menetralisasinya. Stres oksidatif dapat dicegah dan dikurangi dengan adanya asupan antioksidan yang cukup dan optimal ke dalam tubuh. Antioksidan memiliki kemampuan untuk menghancurkan radikal bebas dan memelihara sel-sel tubuh, termasuk sel-sel imun dari adanya stres oksidatif. Salah satu produk yang dapat diinovasikan sebagai produk terbarukan tinggi antioksidan, adalah cookies. Sebagai upaya dalam mengembangkan produk anti stres oksidatif, pada penelitian ini digunakan konsentrat buah naga merah sebagai sumber antioksidan, serta dilakukan pemanfaatan komoditas lokal yaitu berupa penggunaan tepung umbi porang sebagai pensubtitusi tepung terigu, tepung kacang koro pedang sebagai sumber protein. Tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah untuk mengkaji formulasi cookies, mengetahui sifat fisikokimia dan sensori cookies, mengetahui formulasi terbaik dari cookies berbasis tepung umbi porang, tepung kacang koro pedang, dan konsentrat buah naga merah, serta mengetahui efek anti stres oksidatif pemberian cookies fungsional terhadap tikus percobaan. Rancangan percobaan yang digunakan berupa rancangan acak kelompok (RAK), diulang sebanyak tiga kali. Faktor yang digunakan berupa rasio penggunaan tepung umbi porang dan tepung kacang koro pedang dengan taraf 80%:20%, 70%:30%, 60%:40%, dan faktor proporsi konsentrat buah naga merah dengan taraf 10%, 20%, dan 30%. Pada karakteristik sensori, variabel yang diamati diantaranya adalah warna, aroma langu, tekstur, rasa manis, flavour, aftertaste pahit, dan penerimaan keseluruhan. Sedangkan pada karakteristik fisikokimia, atribut yang diujikan diantaranya adalah kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein total, kadar karbohidrat, dan rendemen. Kemudian, ditinjau kombinasi perlakuan terbaik dan diperoleh T1N1 sebagai kombinasi perlakuan terbaik. Cookies perlakuan terbaik kemudian dilakukan pengujian fisikokimia lanjutan, dan in vivo. Pada pengujian in vivo, kelompok perlakuan yang digunakan adalah K1 (tikus yang tidak dipapar asap rokok dan diberi pakan comfeed AD II), K2 (tikus yang dipapar asap rokok dan diberi pakan comfeed AD II), K3 (tikus yang dipapar asap rokok dan diberi pakan cookies komersial), dan K4 (tikus yang dipapar asap rokok dan diberi pakan cookies fungsional). Tikus yang digunakan adalah tikus wistar jantan dewasa dengan berat badan 200 g. Hasil analisa fisikokimia dan in vivo cookies fungsional yang diperoleh diantaranya adalah total fenol 0,138%, flavonoid 0,076%, antioksidan 25,733%, serat kasar 5,251%, serat pangan terlarut 0,152%, serat pangan tak larut 5,765%, serat pangan total 5,917%, tanin 0,157%, uji tekstur 15,772 N. Pada perubahan berat badan, tekanan darah, kadar malonaldehid, dan kadar superoksida dismutase tikus secara berturut-turut adalah 22,83 g, 8,66mm/Hg, 1,5 nmol/ml, 8,35%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Oxidative stress is a condition when the number of free radicals in the body exceeds the body's capacity to neutralize them. Oxidative stress can be prevented and reduced by adequate and optimal antioxidant intake into the body. Antioxidants have the ability to destroy free radicals and protect body cells, including immune cells, from oxidative stress. One product that can be innovated into a renewable product high in antioxidants is cookies. As an effort to develop anti-oxidative stress products, in this research red dragon fruit concentrate was used as a source of antioxidants, and local commodities were utilized, namely the use of porang tuber flour as a substitute for wheat flour, and jackbean flour as a protein source. The aim of this research there are to examine the formulation of cookies, determine the physicochemical and sensory properties of cookies, determine the best formulation of cookies based on porang tuber flour, sword bean flour, and red dragon fruit concentrate, and examine the anti-oxidative stress effect on experimental mice. The experimental design used was a randomized block plan (RBD), repeated three times. The factors used are the ratio of use of porang tuber flour and sword bean flour with levels of 80%:20%, 70%:30%, 60%:40%, and the proportion factor of red dragon fruit concentrate with levels of 10%, 20%, and 30%. In terms of sensory characteristics, the variables observed include color, aroma, texture, sweetness, flavour, bitter aftertaste and overall acceptability. Meanwhile, in terms of physicochemical characteristics, the attributes tested include water content, ash content, fat content, total protein content, carbohydrate content and yield. Then, repeat the best treatment combination and obtain T1N1 as the best treatment combination. The best cookie treatment was then subjected to further physicochemical and in vivo testing. The variables tested on cookies with the best treatment, included total phenols, flavonoids, antioxidants, crude fiber, soluble dietary fiber, insoluble dietary fiber, total dietary fiber, tannins, and texture tests. In in vivo testing, the variables tested include measurements of mice body weight, blood pressure, malonaldehyde levels and superoxide dismutase. The results of the physicochemical analysis and in vivo cookies of the best treatment obtained included total phenols 0.138%, flavonoids 0.076%, antioxidants 25.733%, crude fiber 5.251%, soluble dietary fiber 0.152%, insoluble dietary fiber 5.765%, total dietary fiber 5.917%, tannin 0.157%, texture test 15.772 N. Changes in body weight, blood pressure, malonaldehyde levels, and superoxide dismutase levels in mice were respectively 22.83 g, 8.66mm/Hg, 1.5 nmol/ml, 8.35%.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save