Home
Login.
Artikelilmiahs
42601
Update
WILMAN MUHAMAD AZIDAN
NIM
Judul Artikel
Makna Politik "Raharja" dalam Toponim Fasilitas Publik di Kabupaten Majalengka
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini menjelaskan bahwa penyampaian makna politik oleh penguasa kepada publik dapat dilakukan melalui penamaan tempat atau bisa disebut toponim. Toponim melalui slogan “Raharja” pada fasilitas kota di Majalengka juga diarahkan untuk menyampaikan makna politik kepada publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mengungkap makna politik yang tersirat di dalam toponim kata “Raharja” pada fasilitas kota oleh kepala daerah di Majalengka. Analisis artikel ini menggunakan teori dari Abidin Kusno tentang pemaknaan terhadap ruang publik. Artikel ini didasarkan pada metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Temuan dari tulisan ini: pertama, Karna ingin masyarakat mengingat masa kepemimpinannya dengan adanya pembangunan-pembangunan infrastruktur di lokasi-lokasi yang strategis. Dalam hal ini, dilakukan penanaman memori kolektif kepada masyarakat dengan terlebih dahulu melakukan proses pelupaan kolektif dengan mengganti nama taman; kedua, Karna ingin ingin menunjukkan atau mem-branding karakter kepemimpinannya sebagai bupati. Karakter inilah yang diinginkan oleh Karna untuk diingat oleh masyarakat lalu menjadi memori kolektif di masa depan; ketiga, Karna ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa pembangunan dan renovasi infrastruktur telah berhasil dilakukan pada masa pemerintahannya. Prestasi ini juga ingin ditunjukkan kepada masyarakat agar menjadi memori kolektif; keempat, Karna ingin menunjukkan eksistensinya sekaligus meningkatkan popularitasnya sebagai Bupati Majalengka.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research explains that the conveyance of political meaning by the authorities to the public can be done through naming places or what can be called toponyms. The toponym through the slogan "Raharja" on city facilities in Majalengka is also directed at conveying political meaning to the public. This research aims to find out and reveal the political meaning implicit in the toponym of the word "Raharja" on city facilities by regent of Majalengka. The analysis of this article uses Abidin Kusno's theory regarding the meaning of public space. This article is based on qualitative methods with a phenomenological approach. Data collection techniques through interviews, observation and documentation. The findings from this article: first, Karna wants the public to remember his leadership period with infrastructure developments in strategic locations. In this case, collective memory is instilled in the community by first carrying out a collective forgetting process by changing the name of the park; secondly, Karna wanted to show or brand his leadership character as regent. It is this character that Karna wants the public to remember and become a collective memory in the future; third, Karna wanted to prove to the public that infrastructure development and renovation had been successfully carried out during his reign. We also want to show this achievement to the public so that it becomes a collective memory; fourth, Karna wants to show his existence and at the same time increase his popularity as Regent of Majalengka.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save