Home
Login.
Artikelilmiahs
42553
Update
NABILA RIZKY NUROCHMAH
NIM
Judul Artikel
Efisiensi Teknis Usaha Tani Padi Semi Organik di Kecamatan Petarukan Kabupaten Pemalang
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Kecamatan Petarukan merupakan salah satu daerah yang menerapkan pertanian padi semi organik. Sebagian besar petani padi semi organik di Kecamatan Petarukan baru beralih dari pertanian konvensional ke pertanian semi organik. Peralihan pola budidaya dapat menyebabkan ketidakefisienan dalam menggunakan faktor produksi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pendapatan petani, menganalisis faktor produksi yang berpengaruh terhadap produksi padi semi organik, menganalisis tingkat efisiensi teknis usaha tani, dan menganalisis faktor yang mempengaruhi inefisiensi produksi padi semi organik di Kecamatan Petarukan. Penelitian dilakukan di Kecamatan Petarukan pada bulan Juni sampai Juli 2023. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah metode sensus terhadap 39 petani padi semi organik. Metode analisis yang digunakan adalah analisis biaya dan pendapatan untuk menetahui pendapatan petani padi semi organik. Selain itu, stochastics frontier analysis dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi terhadap produksi, tingkat efisiensi teknis petani padi semi organik dan faktor yang mempengaruhi efek inefisiensi usaha tani padi semi organik di Kecamatan Petarukan. Hasil penelitian menunjukan bahwa rata – rata pendapatan yang diperoleh petani padi semi organik yang menjual gabah dan beras adalah sebesar Rp 13.600.392,64 per hektar dan Rp 26.908.071,7 per hektar. Faktor produksi yang berpengaruh secara signifikan terhadap produksi adalah luas lahan, benih, pupuk anorganik, pupuk organik, pupuk organik cair, dan tenaga kerja. Rata – rata tingkat efisiensi teknis usaha tani padi semi organik di Kecamatan Petarukan adalah sebesar 0,898. Faktor yang mempengaruhi secara signifikan inefisiensi teknis padi semi organik adalah umur dan status kepemilikan lahan.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Petarukan Subdistrict is one of the regions implementing semi-organic rice farming. Most semi-organic rice farmers in Petarukan have recently shifted from conventional farming. This transition in cultivation practices might lead to inefficiencies in the use of production factors. The study aimed to determine farmers' income, analyze the influencing factors on semi-organic rice production, assess the technical efficiency level of farming practices, and identify factors affecting inefficiencies in semi-organic rice production in Petarukan Subdistrict. The research was conducted in Petarukan Subdistrict from June to July 2023 using a survey method. A census sampling method was employed, involving 39 semi-organic rice farmers. The analysis methods utilized included cost and income analysis to ascertain the farmers' earnings. Additionally, stochastics frontier analysis was performed to understand the impact of production factors on output, the level of technical efficiency among semi-organic rice farmers, and the determinants of inefficiency in semi-organic rice farming in Petarukan Subdistrict. The findings revealed that the average income for farmers selling unhulled rice and rice grain stood at Rp 13,600,392.64 per hectare and Rp 26,908,071.7 per hectare, respectively. Significant production factors influencing output included land area, seeds, inorganic fertilizers, organic fertilizers, liquid organic fertilizers, and labor. The average level of technical efficiency in semi-organic rice farming in Pemalang was 0.898. Significant factors affecting technical inefficiency in semi-organic rice were the farmers' age and land ownership status.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save