Home
Login.
Artikelilmiahs
42520
Update
ZUHAL ATTABIK
NIM
Judul Artikel
Inventarisasi dan Identifikasi Penyakit Pada Padi Inpago Unsoed Protani dan Inpari 32 HDB
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Padi Inpago Unsoed Protani dan Inpari 32 HDB merupakan beberapa varietas unggul baru yang memiliki potensi untuk dikembangkan di Desa Banjarsari Wetan, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Meskipun demikian, dalam budidaya kedua varietas tersebut dapat mengalami kendala berupa keberadaan penyakit yang dapat mengakibatkan penurunan hasil produksi. Penelitian dilakukan menggunakan metode survei observatif terhadap gejala penyakit yang terdapat di lapang metode purposive sampling dan random sampling, kemudian sampel diidentifikasi secara makroskopis dan mikroskopis di Laboratorium Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman. Variabel yang diamati adalah kondisi pertanaman, gejala penyakit, morfologi patogen, kejadian penyakit, dan intensitas penyakit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyakit yang terdapat pada wilayah penelitian saat pengamatan adalah hawar daun bakteri (Xanthomonas oryzae pv. oryzae), hawar pelepah daun (Rhizoctonia solani), blas (Pyricularia sp.), bercak coklat sempit (Cercospora oryzae), bercak coklat (Curvularia sp.), dan penyakit fusarium (Fusarium spp.). Kejadian penyakit hawar daun bakteri, hawar pelepah daun, bercak coklat sempit, bercak coklat, dan penyakit fusarium pada padi Inpago Unsoed Protani sama dengan Inpari 32 HDB. Kejadian penyakit blas pada padi Inpago Unsoed Protani lebih sedikit daripada padi Inpari 32 HDB. Padi Inpari 32 HDB memiliki intensitas penyakit hawar daun bakteri yang lebih rendah daripada Inpago Unsoed Protani. Padi Inpago Unsoed Protani memiliki intensitas penyakit hawar pelepah daun dan blas yang lebih rendah daripada Inpari 32 HDB. Intensitas penyakit bercak coklat sempit, bercak coklat, dan penyakit fusarium pada pada padi Inpago Unsoed Protani sama dengan Inpari 32 HDB.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Inpago Unsoed Protani and Inpari 32 HDB are some of the new superior varieties that have the potential to be developed in Banjarsari Wetan Village, Sumbang Subdistrict, Banyumas Regency. However, the cultivation of these two varieties can experience obstacles in the form of the presence of diseases that can cause a decrease in production. The research was conducted using an observational survey method of disease symptoms found in the field using purposive sampling and random sampling methods, then the samples were identified macroscopically and microscopically at the Plant Protection Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jenderal Soedirman. The variables observed were crop conditions, disease symptoms, pathogen morphology, disease incidence, and disease severity. The results showed that the diseases found in the study area at the time of observation were bacterial leaf blight (Xanthomonas oryzae pv. oryzae), sheath blight (Rhizoctonia solani), blast (Pyricularia sp.), narrow brown spot (Cercospora oryzae), brown spot (Curvularia sp.), and fusarium disease (Fusarium spp.). The disease incidence of bacterial leaf blight, sheath blight, narrow brown spot, brown spot, and fusarium disease in Inpago Unsoed Protani rice is similar to Inpari 32 HDB. The disease incidence of blast disease in Inpago Unsoed Protani rice is lower than Inpari 32 HDB. Inpari 32 HDB rice has a lower disease severity of bacterial leaf blight than Inpago Unsoed Protani. Inpago Unsoed Protani rice has a lower intensity of sheath blight and blast disease than Inpari 32 HDB. The disease severity of narrow brown spot, brown spot, and fusarium disease in Inpago Unsoed Protani rice is similar to Inpari 32 HDB.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save