Home
Login.
Artikelilmiahs
42491
Update
HERIZKA RIHHADATUL 'AISY
NIM
Judul Artikel
Groundwater Potential Zone (GWPZ) DAS Serayu menggunakan Analytical Hierarchry Process (AHP) dan Multicriteria Decision Analysis (MCDA)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Airtanah memiliki potensi besar sebagai solusi untuk menggantikan air permukaan sebagai sumber utama penyedia air untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini dikarenakan airtanah memiliki sifat yang tahan terhadap bencana kekeringan, kualitas air yang baik, jumlah ketersediaan yang berkepanjangan, dan terdapat pada area yang luas. Daerah Aliran Sungai Serayu secara umum memiliki kandungan airtanah yang sedang hingga rendah dengan timbunan potensi airtanah mencapai 105.981.890 m3/tahun pada 2010. Groundwater Potential Zone (GWPZ) di DAS Serayu perlu dipetakan untuk mengetahui kandungan airtanah serta sebagai pedoman dalam pengambilan suatu kebijakan. Pemetaan GWPZ DAS Serayu dilakukan menggunakan dua belas parameter: peta curvature, hillshade, roughness, lineament density, slope, water recharge, TPI, TWI, LULC, geomorfologi, litologi, dan jenis tanah yang diambil dari berbagai sumber. Overlay peta parameter pada QGIS dilakukan dengan bobot masing-masing parameter yang telah dilakukan proses expert judgment menggunakan AHP. Hasil peta GWPZ divalidasi dengan observasi lapangan. Data observasi lapangan digunakan sebagai dasar untuk melakukan klasifikasi peta. Nilai R2 yang dihasilkan sebesar 0,67 dan RMSE 2,275.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Groundwater has great potential as a solution to replace surface water as the main source of water supply for daily needs. This is because groundwater has drought-resistant properties, good water quality, prolonged availability, and is found in a large area. The Serayu River Basin generally has moderate to low groundwater content with a potential groundwater storage of 105,981,890 m3/year in 2010. The Groundwater Potential Zone (GWPZ) in the Serayu watershed needs to be mapped to determine the groundwater content and as a guideline for policy making. GWPZ mapping of Serayu watershed was conducted using twelve parameters: curvature map, hillshade, roughness, lineament density, slope, water recharge, TPI, TWI, LULC, geomorphology, lithology, and soil type taken from various sources. Overlaying parameter maps on QGIS is carried out with the weight of each parameter that has been subjected to an expert judgment process using AHP. The results of the GWPZ map were validated with field observations. Field observation data is used as an information for map classification. The resulting R2 value is 0.67 and RMSE 2.275.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save