Home
Login.
Artikelilmiahs
41725
Update
THERESIA IRMA OKTAVIA
NIM
Judul Artikel
Analisis Vegetasi Gulma Pertanaman Jagung Pada Tanah Inseptisol dan Ultisol
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tanaman jagung berasal dari benua Amerika yang tumbuh sekitar 4.500 tahun yang lalu di pegunungan Andes, Amerika Selatan. Tanaman jagung dibawa ke Indonesia oleh orang Portugis dan Spanyol sekitar 400 tahun yang lalu. Pusat pertanaman jagung di benua Asia terdapat di Cina, Filipina, India dan Indonesia (Rukmana dan Yudirachman, 2014). Permintaan jagung di pasar Indonesia maupun di dunia terus meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan industri yang menggunakannya sebagai bahan baku (Gawaksa et al., 2016). Oleh karena itu, diperlukan upaya meningkatkan produksi tanaman jagung agar dapat memenuhi permintaan pasar. Penelitian dilaksanakan di lahan budidaya jagung desa Tambaksari Kidul, Kecamatan Kembaran dan desa Cindaga, Kecamatan Kebasen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah serta laboratorium Agronomi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Karangwangkal, Purwokerto Utara. Analisis sifat kimia tanah dilakukan di Laboratorum Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatf yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan mengidentifikasi gulma yang ditemukan pada pertanaman jagung. Metode kuantitatif yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menghitung dan menganalisis vegetasi gulma yang dominan serta keanekaragamannya pada lahan budidaya jagung. Variabel Pengamatan dalam penelitian ini yaitu Jenis gulma, SDR, pH tanah, suhu, kelembaban, curah hujan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gulma pada lahan pertanaman jagung di Desa Tambaksari Kidul, Kecamatan Kembaran yang paling dominan yaitu Acalypha indica dengan SDR 23,84%. Gulma pada lahan pertanaman jagung di tanah Ultisol Desa Cindaga, Kecamatan Kebasen yang paling dominan yaitu Oplismenus burmanni dengan SDR 22,26%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Corn plants originate from the Americas which grew around 4,500 years ago in the Andes mountains, South America. Corn plants were brought to Indonesia by the Portuguese and Spaniards about 400 years ago. The centers of maize cultivation on the Asian continent are in China, the Philippines, India and Indonesia (Rukmana and Yudirachman, 2014). The demand for corn in the Indonesian market and in the world continues to increase along with the increasing population and industries that use it as a raw material. Therefore, efforts are needed to increase corn production in order to meet market demand. The research was carried out in the corn cultivation land of Tambaksari Kidul Village, Kembaran District and Cindaga Village, Kebasen District, Banyumas Regency, Central Java and the Agronomy Laboratory of the Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Karangwangkal, Purwokerto Utara. Analysis of the chemical properties of the soil was carried out at the Laboratory of Soil Science, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, this study used qualitative and quantitative methods. The qualitative method used in this study was to identify weeds found in corn plantations. The quantitative method used in this research is to calculate and analyze the dominant weed vegetation and its diversity on corn cultivation land. Observational variables in this study were the type of weeds, SDR, soil pH, temperature, humidity, rainfall. The results of this study indicate that the most dominant weed in the corn planting area in Tambaksari Kidul Village, Kembaran District, is Acalypha indica with an SDR of 23.84%. The most dominant weeds on corn planting land in Ultisol, Cindaga Village, Kebasen District, were Oplismenus burmanni with an SDR of 22.26%.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save