Home
Login.
Artikelilmiahs
41644
Update
FANNY R. IMAWAN
NIM
Judul Artikel
Makna Perempuan Dan Pesan Moral Dalam Film imperfect:Karir, Cinta Dan Timbangan
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Film Imperfect merupakan film yang menggambarkan perlakuan tidak adil dan bodyshaming yang tertuju pada perempuan yang tidak cantik yang tidak masuk dalam standar kecantikan. Di mata masyarakat, hampir semua orang menganggap bahwa perempuan cantik harus memiliki badan yang ideal dan kulit yang putih, diluar dari kacamata mereka maka perempuan tersebut adalah perempuan yang jelek. adanya film ini ditunjukan kepada masyarakat dan mengubah pandangan masyarakat tentang standar kecantikan pada perempuan tidak di lihat hanya dari bentuk fisik atau bentuk badan. Sedangkan pada film imperfect, mereka memilih perempuan yang berbeda dengan standar kecantikan yang ada. Khalayak yang telah menonton film Imperfect memiliki pemaknaan dan persepsi nya sendiri serta penerimaan yang berbeda-beda setiap individu terhadap perlakuan bodyshaming dan stereotip masyarakat tentang standar kecantikan, baik di kehidupan nyata maupun yang terdapat dalam film Imperfect itu sendiri. Tujuan penelitian merupakan untuk mengetahui makna perempuan dan pesan moral yang terdapat dalam film Imperfect: Karir,Cinta dan Timbangan dan melihat peran media terhadap fenomena Bodyshaming di masyarakat saat ini.Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Penelitian menggunakan penelitian kualitatif dengan menggunakan teori analisis Semiotika. Penelitian ini memfokuskan pemaknaan kata dengan memaknakan tanda-tanda yang ada di film Imperfect berupa scene-scene atau adegan yang ada di film tersebut yang menghasilkan pemakanaan pesan menjadi pesan moral. Dalam penelitian ini, peneliti mengamati scene-scene yang ada di film tersebut dan menemukan tanda untuk dapat di maknakan dengan menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes pemaknaan sebuat kata dapat dibagi menjadi dua tingkatan penandaan yaitu denotasi dan konotasi. Penandaan tersebut berkembang sehingga mengasilkan sebuah mitos, konotasi yang sudah terbentuk lama di masyarakat akan menjadi sebuah mitos. Hasil penelitian menunjukan bahwa standarisasi kecantikan sudah menjadi konsistensi sosial bahwa cantik itu harus bertubuh ideal dengan tubuh yang ramping dan berkulit putih. Maka dari itu untuk mengurangi pandangan terkait standarisasi kecantikan tersebut yang sudah menjadi konsistensi sosial, kita harus berusaha untuk menghargai perbedaan dan keberagaman setiap perempuan serta menghargai dan mencintai diri sendiri supaya bisa merubah perasaan insecure tersebut menjadi rasa bersyukur.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Imperfect is a film that depicts unfair treatment and bodyshaming aimed at women who are not beautiful and do not fit into the standard of beauty. In the eyes of society, almost everyone thinks that a beautiful woman must have an ideal body and white skin, outside of their eyes, this woman is an ugly woman. the existence of this film is shown to the public and changes people's views about beauty standards in women not only seen from physical form or body shape. Whereas in the imperfect film, they choose women who are different from existing beauty standards. Audiences who have watched the film Imperfect have their own interpretations and perceptions as well as individual acceptance of body shaming and stereotypes about beauty standards, both in real life and in the film Imperfect itself. The purpose of this research is to find out the meaning of women and the moral messages contained in the film Imperfect: Career, Love and Scales and to see the role of the media in the Bodyshaming phenomenon in society. This study uses a qualitative approach method. Research using qualitative research using the theory of semiotic analysis. This study focuses on the meaning of words by interpreting the signs in the film Imperfect in the form of scenes or scenes in the film which result in the conversion of messages into moral messages. In this research, the researcher observes the scenes in the film and finds signs to be interpreted using Roland Barthes' semiotic approach. The meaning of a word can be divided into two levels of marking, namely denotation and connotation. This tagging develops to produce myths, connotations that have long been formed in society will become myths. The results of the study show that the standardization of beauty has become a social consistency that beauty must have an ideal body with a slim body and white skin. Therefore, to reduce the view on standardization of beauty that has become a habit in society, we must try to appreciate the differences and diversity of every woman and respect and love ourselves so that we can turn this feeling of inferiority into gratitude.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save