Home
Login.
Artikelilmiahs
40859
Update
SYALSABILLA MAWARNI
NIM
Judul Artikel
PERBEDAAN LARUTAN LENGKUAS (Alpinia galangal) DAN LARUTAN KUNYIT (Curcuma longa) TERHADAP PENURUNAN KADAR FORMALIN PADA IKAN TONGKOL (Euthynnus affinis)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang : Ikan tongkol memiliki sifat mudah busuk. Banyak dijumpai penambahan formalin sebagai bentuk pengawetan ikan tongkol. Lengkuas dan kunyit memiliki kandungan saponin yang dapat menurunkan kadar formalin. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui perbedaan larutan lengkuas dan larutan kunyit dalam menurunkan kadar formalin pada ikan tongkol. Metode : Jenis penelitian ini adalah true experiment dengan menggunakan Posttest Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah ikan tongkol pindang di Pasar Wage Banyumas. Penelitian ini menggunakan metode spektrofotometri dengan perendaman larutan lengkuas dan larutan kunyit dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40% dan pengulangan sebanyak 4 kali. Ikan tongkol pindang direndam pada masing – masing larutan selama 60 menit kemudian diuji kadar formalinnya. Uji statistik yang digunakan yaitu uji normalitas dengan Saphiro Wilk, dilanjutkan dengan uji Kruskall Wallis dan uji Mann Whitney. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang nyata penurunan kadar formalin antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Kadar formalin paling rendah terdapat pada perlakuan perendaman menggunakan larutan kunyit 40%. Kadar formalin pada ikan pindang tongkol dengan perlakuan perendaman kunyit 20% sebesar 4,424 ppm, kunyit 30% sebesar 4,304 ppm, dan kunyit 40% sebesar 4,251 ppm. Kadar formalin pada ikan pindang tongkol dengan perlakuan perendaman lengkuas 20% sebesar 4,652 ppm, lengkuas 30% sebesar 4,734, dan lengkuas 40% sebesar 4,365 ppm. Kesimpulan : Perlakuan dengan perendaman larutan lengkuas dan larutan kunyit efektif mengurangi kadar formalin pada ikan tongkol pindang. Larutan kunyit 40% mempunyai kemampuan untuk mengurangi kadar formalin paling tinggi. Kata Kunci : Lengkuas, kunyit, ikan pindang tongkol, formalin
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background : Tuna fish is highly perishable food. The use of formalin increase widely as a form for preservation process. Galangal and turmeric has active compounds that is saponin which can decrease formalin level. This study aims to determine the difference between galangal and turmeric solutions in reducing formaldehyde levels in tuna fish. Methods : This research is a true experimental research using posttest with control group design. The population on this study is pindang tuna fish at Wage Market in Banyumas. This research uses a spectrophotometric method by soaking a solution of galangal and turmeric in a concentration of 20%, 30% and 40% with 4 repetitions. Pindang tuna fish was soaked in each solution for 60 minutes and then tested for formaldehyde levels. The statistical test is the normality test with Saphiro Wilk, followed by the Kruskall Wallis test and Mann Whitney test. Results : The result shows that there is a significant difference in reducing formaldehyde levels between the control group and the treatment group. The lowest formaldehyde levels were found in the immersion treatment using 40% turmeric solution. The formaldehyde levels in pindang tuna fish soaked in turmeric solution 20% is 4,424 ppm, turmeric solution 30% is 4,304 ppm, and turmeric solution 40% is 4,251 ppm. The formaldehyde levels in pindang tuna fish soaked in galangal solution 20% is 4,652 ppm, galangal solution 30% is 4,734 and galangal solution 40% is 4,365 ppm. Conclusion : Treatment by immersing galangal solution and turmeric solution was effective in reducing formalin levels in pindang tuna fish. Turmeric solution 40% has the ability to reduce the highest levels of formalin. Keywords : Galangal, turmeric, pindang tuna fish, formaldehyde
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save