Home
Login.
Artikelilmiahs
40243
Update
DAVINA LOVEKITA SAFIRA
NIM
Judul Artikel
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tempe merupakan salah satu makanan tradisional Indonesia yang digemari hampir dari seluruh masyarakat. Bahan baku utama dari tempe adalah kedelai. Berdasarkan data kebutuhan kedelai di Indonesia sebesar 3 juta ton per tahunnya, sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya sekitar 20 persen. Artinya tingkat impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan kedelai di Indonesia per tahunnya sangat tinggi. Hal ini berdampak terhadap kebutuhan kedelai pengrajin tempe di Indonesia. Berkurangnya kebutuhan kedelai akan berdampak terhadap penurunan produksi tempe, sehingga pendapatan yang diperoleh juga akan semakin berkurang. Penelitian ini dilakukan kepada pengrajin tempe di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas. Penelitian ini dilakukan di Desa Pliken dengan responden sebanyak 81 pengrajin tempe. Penelitian menggunakan data primer dengan teknik pengumpulan observasi, wawancara, dan kuesioner. Kemudian data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa modal kerja, tenaga kerja, jangkauan pemasaran, dan jam kerja secara bersama-sama memiliki pengaruh yang signfikan terhadap pendapatan pengrajin tempe di Desa Pliken. Modal kerja dan tenaga kerja secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap pendapatan pengrajin tempe di Desa Pliken, sedangkan jangkauan pemasaran dan jam kerja berpengaruh positif, tetapi tidak signifikan terhadap pendapatan pengrajin tempe di Desa Pliken. Hasil analisis sensitifitas keuntungan usaha tempe menunjukkan bahwa bila terjadi perubahan harga kedelai sebesar 5 persen, 10 persen, 15 persen dan 20 persen, berdampak terhadap keuntungan yang didapatkan akan semakin sedikit dan terdapat beberapa pengrajin yang akan mengalami kerugian.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Tempe is a traditional Indonesian food that is loved by almost all people. The main raw material for tempeh is soybeans. Based on the data, the demand for soybeans in Indonesia is 3 million tons per year, while domestic soybean production is only around 20 percent. This means that the level of soybean imports to meet the needs of soybeans in Indonesia per year is very high. This has an impact on the demand for soybeans for tempe producers in Indonesia. The reduced demand for soybeans will have an impact on decreasing tempeh production, so that the income earned will also decrease. This research was conducted on tempe producers in Pliken Village, Kembaran District, Banyumas Regency. This research was conducted in Pliken Village with 81 tempe producers as respondents. The research uses primary data with observation, interview, and questionnaire collection techniques. Then the data obtained were analyzed using multiple linear regression analysis. The results showed that working capital, labor, marketing reach, and working hours had a significant influence on the income of tempe producers in Pliken Village. Working capital and labor partially have a positive and significant effect on the income of tempe producers in Pliken Village, while marketing reach and working hours have a positive but not significant effect on the income of tempe producers in Pliken Village. The results of the profit sensitivity analysis of the tempeh business show that if there is a change in soybean prices by 5 percent, 10 percent, 15 percent and 20 percent, the impact on the profits will be less and there will be some craftsmen who will suffer losses.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save