Home
Login.
Artikelilmiahs
38552
Update
NIDA NUROTUL HIDAYAH
NIM
Judul Artikel
Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Porang (Amorphophallus muelleri Blume) setelah Pertumbuhan Bulbil dari Tiga Daerah Asal pada Berbagai Dosis Pupuk Kandang
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tujuan penelitian ini adalah menentukan dosis pupuk kandang yang tepat terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman porang asal Banyumas, Madiun, dan Semarang. Penelitian berupa percobaan lapang yang dilaksanakan di Desa Bobosan, Puwokerto Utara, menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan dua faktor perlakuan. Faktor pertama adalah daerah asal porang sebagai petak utama (main plot), yaitu Banyumas, Madiun, dan Semarang. Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang sebagai sub petak (sub plot), yaitu 1000, 1500, dan 2000 g/tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis 2000 g pupuk kandang/tanaman menghasilkan diameter umbi paling tinggi yakni rata-rata 11,14 mm dibandingkan dengan dosis 1500 g pupuk kandang/tanaman yakni rata-rata 10,45 mm dan dosis 1000 g pupuk kandang/tanaman yakni rata-rata 10,60 mm. Tanaman porang asal Banyumas dan Semarang memberikan pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun yang sama, sedangkan tanaman porang asal Madiun memberikan pertumbuhan terbaik pada jumlah tunas dan diameter bulbil. Tanaman porang yang memberikan tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan kehijauan daun tertinggi yaitu klon porang asal Madiun dengan pemberian dosis 1500 g pupuk kandang/tanaman atau klon asal Semarang dengan pemberian dosis 2000 g pupuk kandang/tanaman.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The aims of this study were to determine the appropriate dose of manure fertilizer on the growth and yield of porang plants from Banyumas, Madiun, and Semarang. The research is a field experiment conducted in Bobosan Village, North Purwokerto, using a split plot design with two treatment factors. The first factor is the area of origin of the porang plant as the main plot, consists of Banyumas, Madiun, and Semarang. The second factor is the dose of manure fertilizer as a sub-plot, which is 1000, 1500, and 2000 g/plant. The results showed that a dose of 2000 g of manure fertilizer/plant produced the highest tuber diameter, which was 11.14 mm on average, compared to a dose of 1500 g of manure fertilizer/plant, which was 10.45 mm on average, and a dose of 1000 g of manure fertilizer/plant, which was an average of 10.60 mm. Plants from Banyumas and Semarang gave the same in plant height and number of leaves, while Porang plants from Madiun gave the best growth in the number of shoots and bulbil diameter. The porang plants that gave the highest plant height, number of leaves, stem diameter, and the greenness of the leaves were porang clones from Madiun with a dose of 1500 g of manure fertilizer/plant or clones from Semarang with a dose of 2000 g of manure fertilizer/plant.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save