Home
Login.
Artikelilmiahs
37566
Update
MUHAMMAD FAJAR SHIDQI MUBAROK BASSAMA
NIM
Judul Artikel
KELAYAKAN DAN RISIKO USAHATANI BAWANG MERAH DI DESA PAKIJANGAN KECAMATAN BULAKAMBA KABUPATEN BREBES JAWA TENGAH
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Bawang merah merupakan produk pertanian yang banyak dibutuhkan sehingga menjadi komoditas penting. Kabupaten Brebes merupakan sentra produksi bawang merah di Indonesia dan Desa Pakijangan merupakan salah satu daerah penghasil bawang merah di Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes yang potensial, namun akibat ketidakpastian harga, perubahan cuaca yang ekstrim dan serangan hama dan penyakit menyebabkan produksinya jauh dari potensi seharusnya. Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan dan risiko pendapatan usahatani bawang merah di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei. Penentuan sampel menggunakan sampel acak sederhana, diperoleh 24 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani bawang merah di Desa Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes dinyatakan layak dengan risiko tinggi. Kelayakan usahatani bawang merah dengan rata-rata luas tanam 0,207 ha menunjukkan nilai R/C ratio 1,28, produksi 2.148 Kg > BEP produksi 532,07 Kg, harga Rp 13.000/Kg > BEP harga Rp 10.122/Kg. Risiko pendapatan (KV) sebesar 0,57 dengan batas bawah pendapatan Rp -905.804. Bawang merah dinyatakan sensitif saat kenaikan biaya bibit sebesar 10% pada asumsi penerimaan turun 20%.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Shallots are agricultural products that are needed a lot to become an essential commodity. Brebes Regency is the center of shallot production in Indonesia, and Pakijangan Village is one of the potential shallot-producing areas in Bulakamba District, Brebes Regency, but due to price volatility, extreme weather changes, and pest and disease attacks, production is still far from its potential. This study aims to determine the feasibility and risk of shallot farming income in Pakijangan Village, Bulakamba District, Brebes Regency. The method used in this research is a survey method. The determination of the sample was made using a simple random sample of 24 samples. Data was collected by means of direct interviews using questionnaires. The results showed that shallot farming in Pakijangan Village, Bulakamba District, Brebes Regency, was declared feasible with high risk. The feasibility of shallot farming with an average planting area of 0.207 ha shows an R/C ratio of 1.28, production of 2,148 kg > BEP production of 532.07 kg, and a price of Rp. 13,000/kg > BEP of Rp. 10,122/kg. Income risk (KV) is 0.57 with a lower income limit of IDR-905,804. Shallots are declared sensitive when the cost of seeds increases by 10% on the assumption that revenues decrease by 20%.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save