Home
Login.
Artikelilmiahs
36710
Update
IKA MELINDHA SWASTITI
NIM
Judul Artikel
PAKAIAN TRADISIONAL RAMAH TUNANETRA (PADIRATU) SEBAGAI BENTUK KEPEDULIAN SOSIAL TERHADAP PENYANDANG TUNANETRA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penampilan seseorang merupakan identitas diri. Goffman menyebutkan bahwa penampilan merupakan bagian dari personal front. Salah satu unsur utama penampilan seseorang adalah busana. Sayangnya, industri busana belum banyak mengakomodasi kelompok difabel yang memiliki kebutuhan khusus. Busana adaptif, yakni busana yang didesain khusus untuk kelompok difabel, merupakan salah satu upaya mendukung mereka agar dapat berbusana sesuai kebutuhan. Bertolak dari kondisi tersebut, kami Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) memiliki ide menciptakan pakaian yang ramah terhadap kelompok difabel, khususnya para penyandang tunanetra. Ide tersebut adalah mengembangkan usaha pakaian tradisional ramah tunanetra (Padiratu) yang bertujuan membantu para penyandang tunanetra agar lebih percaya diri melalui busana yang mereka kenakan, sekaligus untuk menampik anggapan bahwa para tunanetra tidak butuh penampilan. Tim PKM-K memilih batik -khususnya batik Banyumas- sebagai bahan dasar busana dipadu dengan kain beludru untuk memberikan aksen modern. Dalam kondisi pandemik Covid-19 ini produk Padiratu bukan berupa pakaian jadi melainkan hanya gambaran produk dalam bentuk animasi. Promosi dan pemasaran produk Padiratu melalui media sosial dengan marketplace domestik Shopee dan marketplace mancanegara Alibaba. Oleh karena itu, promosi menggunakan dwibahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Hasil pelaksanaan PKM-K Padiratu dalam bentuk video animasi. Rancangan pengembangan usaha Padiratu ini tidak hanya berorientasi profit, melainkan juga berorientasi sosial. Hadirnya Padiratu diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelompok disabilitas, khususnya para penyandang tunanetra.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Appearance is a people identity. Goffman said that appearance is part of the personal front. One of the main elements of a person's appearance is clothing. Unfortunately, the fashion industry has not accommodated many people with disabilities who have special needs. Adaptive clothing, namely clothing designed specifically for disabled groups, is one effort to support them so that they can dress according to their needs. Starting from these conditions, our Entrepreneurship Student Creativity Program Team (PKM-K) has the idea of creating clothes that are friendly to disabled groups, especially blind people. The idea is to develop a blind-friendly traditional clothing business (Padiratu) which aims to help blind people to be more confident through the clothes they wear, as well as to refute the notion that blind people don't need to appear. The PKM-K team chose batik—especially Banyumas batik—as the basic material for clothing, combined with velvet fabric to give a modern accent. In this condition of the COVID-19 pandemic, Padiratu's products are not in the form of ready-made clothes but only product descriptions in the form of animation. Promotion and marketing of Padiratu products through social media with Shopee's domestic marketplace and Alibaba's foreign marketplace. Therefore, the promotion uses bilingualism, namely Indonesian and English. The results of the PKM-K Padiratu implementation are in the form of animated videos. The Padiratu business development plan is not only profit-oriented but also social-oriented. The presence of Padiratu is expected to increase public awareness of disability groups, especially blind people.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save