Home
Login.
Artikelilmiahs
36452
Update
YUNDA DWI SEPTIYANI
NIM
Judul Artikel
PENGARUH INDUKSI GONADOTROPIN RELEASING HORMONE TERHADAP ONSET DAN LAMA BERAHI PADA DOMBA BATUR
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh induksi gonadotropin releasing hormone terhadap onset dan lama berahi pada domba Batur. Materi penelitian ini menggunakan 17 ekor domba Batur betina tidak sedang bunting, minimal paritas 2 dengan umur minimal 2 tahun. Alat yang digunakan antara lain spuit injection 3 ml untuk penyuntikan hormon secara intramuskuler, alat tulis, logbook, senter, dan cat air. Bahan yang digunakan yaitu hormon PGF2α (Dinoprost trometamol 5mg/ml) dan gonadotropin releasing hormone (Gonadorelin 0,1 mg/ml). Metode penelitian dilakukan dengan perlakuan P1 = kontrol yaitu injeksi PGF2α dengan dosis 2 ml yang diberikan sebanyak 2 kali dengan interval waktu selama 11 hari secara intramuskuler. Perlakuan P2 = injeksi PGF2α dengan dosis 2 ml yang diberikan sebanyak 2 kali dengan interval waktu selama 11 hari ditambah dengan gonadotropin releasing hormone dengan dosis 1 ml pada hari ke – 9 secara intramuskuler. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan uji t student tidak berpasangan (unequal) variansi. Hasil analisis statistik menunjukkan hasil rataan onset berahi domba Batur yaitu sebesar pada P1 yaitu sebesar 28,67 ± 2,64 jam sedangkan pada P2 sebesar 25,06 ± 9,62 jam (P>0,05), sedangkan hasil rataan lama berahi domba Batur pada P1 yaitu 51,79 ± 25,04 jam sedangkan pada P2 yaitu 57,44 ± 29,03 jam (P>0,05). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu onset dan lama berahi pada domba Batur relatif sama antara yang diinduksi gonadotropin releasing hormone dan kontrol.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research aimed to determine the effect of gonadotropin releasing hormone induction on the onset and duration of estrus in Batur ewe. The research material used 17 Batur ewe that were not pregnant, at least parity 2 with a minimum age of 2 years. The tools used include a 3 ml injection syringe for intramuscular injection of hormones, stationery, logbook, flashlight, and watercolors. The ingredients used are PGF2α hormone (Dinoprost trometamol 5mg/ml) and gonadotropin releasing hormone (Gonadorelin 0.1 mg/ml). The research method was carried out with P1 = control treatment, namely PGF2α injection with a dose of 2 ml which was given 2 times with an interval of 11 days intramuscularly. Treatment P2 = injection of PGF2α with a dose of 2 ml given 2 times with an interval of 11 days plus gonadotropin releasing hormone with a dose of 1 ml on day 9 intramuscularly. The data obtained were analyzed using unpaired student t test (unequal) variance. The results of statistical analysis showed that the average onset of estrus in Batur ewe was 28.67 ± 2.64 hours in P1 while at P2 it was 25.06 ± 9.62 hours (P> 0.05), while the average duration of estrus in Batur ewe at P1 was 51.79 ± 25.04 hours while at P2 it was 57.44 ± 29.03 hours (P>0.05). The conclusion of this study was that the onset and duration of estrus in Batur ewe were relatively similar between those induced by gonadotropin releasing hormone and controls.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save