Home
Login.
Artikelilmiahs
35605
Update
MARLIANA NUGROHO
NIM
Judul Artikel
Perbedaan Produksi dan Bobot Telur Ayam Kampung Yang Dipelihara Secara Ekstensif dan Semi Intensif di Wilayah Banyumas dan Kebumen
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji produksi telur dan bobot telur ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif dan semi intensif di wilayah Banyumas dan Kebumen. Sasaran penelitian yaitu ayam kampung umur 8-12 bulan dan telur ayam kampung. Metode penelitian menggunakan survey di tingkat peternak. Analisis data yang digunakan General Linear Models (GLM). Metode pengambilan sampel dengan purposive random sampling. Jumlah ayam kampung yang digunakan 303 ekor, sistem pemeliharaan ekstensif 140 ekor dan semi intensif 163 ekor. Penelitian di Wilayah Banyumas mencangkup: kecamatan Kembaran, Sumbang, Baturraden, Pekuncen, Cilongok. Penelitian di Wilayah Kebumen mencangkup: kecamatan Petanahan, Puring, Buluspesantren, Klirong, Ambal. Hasil penelitian menunjukan produksi telur ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif di Banyumas dan Kebumen berkisar 11-12 butir/ekor/periode dengan bobot telur 41,39-42,76 gram. Produksi telur ayam kampung yang dipelihara secara semi intensif di Banyumas dan Kebumen berkisar 12-13 butir/ekor/periode dengan bobot telur 39,46-41,39 gram. Hasil penelitian menunjukan bahwa wilayah dan sistem pemeliharaan berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap produksi telur, sedangkan sistem pemeliharaan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bobot telur ayam kampung. Kesimpulan, ayam kampung yang dipelihara di wilayah Banyumas dan Kebumen dengan sistem pemeliharaan ekstensif dan semi intensif menghasilkan produksi telur relatif sama. Namun, ayam kampung yang dipelihara secara ekstensif di wilayah Kebumen menghasilkan bobot telur yang lebih tinggi dibandingkan ayam kampung yang dipelihara secara semi intensif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This study aimed to examine the egg production and egg weight of native chicken reared extensively and semi-intensively in Banyumas and Kebumen areas. The research targets were native chickens aged 8-12 months and native chicken eggs. The research method used a survey at the farmer level. Analysis of the data used General Linear Models (GLM). The sampling method was purposive random sampling. The number of native chickens used was 303 native chicken, 140 chicken with extensive system and 163 chicken with semi-intensive system. The research in Banyumas region covers sub-districts of Kembaran, Sumbang, Baturraden, Pekuncen, Cilongok. The research in Kebumen region covers sub-districts of Petanahan, Puring, Buluspesantren, Klirong, Ambal. The results showed that the egg production of native chickens reared extensively in Banyumas and Kebumen areas ranged from 11-12 egg/head/period with egg weights ranging from 41,39-42,76 grams. The egg production of native chickens reared semi-intensively in Banyumas and Kebumen areas ranged from 12-13 egg/head/period with an egg weights ranging from 39,46-41,39 grams. The results showed that the area and rearing system had no significant effect (P>0,05) on egg production, while the rearing system had a significant effect (P<0,05) on the egg weight. In conclusion, native chickens reared in Banyumas and Kebumen areas with extensive and semi-intensive rearing systems produce relatively the same egg production. However, native chickens reared extensively in Kebumen area produced higher egg weights compared with native chickens reared semi-intensively.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save