Home
Login.
Artikelilmiahs
34917
Update
HIJRAH UTAMA
NIM
Judul Artikel
Komposisi, Struktur, dan Potensi Cadangan Karbon Hutan Rakyat di Kabupaten Purbalingga, Provinsi Jawa Tengah
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Salah satu permasalahan manusia saat ini adalah terjadinya perubahan iklim yang ditandai dengan meningkatnya suhu bumi secara global akibat meningkatnya kadar konsentrasi gas rumah kaca. Oleh sebab itu seluruh negara di dunia melakukan kesepakatan melalui Protokol Kyoto untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab meningkatnya suhu bumi. Hutan rakyat merupakan salah satu bentuk penggunaan lahan yang berperan dalam proses mitigasi perubahan iklim karena berperan dalam menyerap (sekuestrasi) dan menyimpan karbon. Jumlah karbon yang disimpan tanaman hidup pada suatu lahan hutan dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfer yang diserap menjadi stok karbon. Namun data mengenai komposisi, struktur, potensi cadangan karbon serta nilai ekonominya, yang berasal dari hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga belum cukup memadai. Oleh karena itu, perlu pengkajian terhadap komposisi dan struktur hutan rakyat untuk mendukung perhitungan potensi cadangan karbon serta nilai ekonominya pada lahan hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran, wawancara dan studi literatur. Penentuan plot sampel dilakukan secara purposive berdasarkan keterwakilan tegakan hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga, yaitu hutan rakyat dengan tipe agroforestri kapulaga (E), kopi (K), nanas (B), dan non-agroforestri (T). Masing-masing plot sampel dilakukan ulangan sebanyak tiga kali pada lokasi yang berbeda, sehingga terdapat 12 plot sampel berukuran 20x50 m (0,1 ha). Kantong karbon (carbon pool) yang ditetapkan untuk diukur antara lain biomassa atas tegakan (BAP), biomassa bawah tegakan (BBP), dan tanah (TNH). Parameter yang diukur meliputi biomassa (Mg/ha), stok karbon (Mg/ha), serapan karbon (Mg/ha CO2-eq), dan nilai ekonomi karbon (US$/IDR). Pengukuran vegetasi dilakukan secara non-destruktif (tanpa penebangan) terhadap dua tingkat pertumbuhan vegetasi yakni tingkat tiang dan pohon. Sedangkan pengukuran cadangan karbon tanah dilakukan terhadap sampel tanah terganggu dan sampel tanah tidak terganggu. Analisis data komposisi dan struktur tegakan menggunakan Indeks Nilai Penting (INP); data biomassa dan cadangan karbon menggunakan persamaan alometrik, dan uji laboratorium sampel tanah. Hasil penelitian menunjukkan hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga umumnya dibudidayakan pada lahan pekarangan, tegalan, dan kebun campuran. Sebaran hutan rakyat secara spasial hampir merata di seluruh tempat, terutama pada lahan kering dengan ketinggian antara 167 sampai 915 mdpl, di 13 dari 18 kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Komposisi vegetasi yang ditemukan berjumlah 30 jenis yang termasuk dalam 20 famili. Struktur vertikalnya terdiri dari tiga lapisan yaitu Stratum A, Stratum B, dan Stratum C. Secara horizontal, struktur hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga terbagi dalam 6 kelas diameter mulai dari Kelas Diameter II hingga Kelas Diameter VII, dengan tingkat kerapatan pohon berbanding terbalik dengan pertambahan diameter (membentuk kurva dengan huruf J terbalik). Potensi biomassa hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga dengan tipe agroforestri kapulaga sebesar 347,56 Mg/ha (rata-rata 115,85 Mg/ha), kopi 488,90 Mg/ha (162,97 Mg/ha), nanas 475,11 Mg/ha (158,37 Mg/ha), dan non-agroforestri 393,19 Mg/ha (131,06 Mg/ha), total mencapai 1.704,75 Mg/ha (142,06 Mg/ha). Potensi cadangan karbon hutan rakyat di Kabupaten Purbalingga dengan tipe agroforestri kapulaga adalah sebesar 163,35 Mg/ha (rata-rata 54,45 Mg/ha), kopi 229,78 Mg/ha (76,59 Mg/ha), nanas 223,30 Mg/ha (74,43 Mg/ha), dan non-agroforestri 184,80 Mg/ha (61,60 Mg/ha), dengan total mencapai 801,23 Mg/ha (66,77 Mg/ha). Potensi cadangan karbon di Kabupaten Purbalingga dari kantong karbon biomassa (BAP dan BBP) 1.713.948,51 Mg dan dari kantong karbon tanah 1.309.654,83 Mg. Potensi serapan karbon pada biomassa tingkat pohon 1.216,75 Mg/ha CO2-eq, pada biomassa tingkat tiang sebesar 1.723,78 Mg/ha CO2-eq, dan kantong karbon tanah sebesar 748,91 Mg/ha CO2-eq, dengan total mencapai 3.689,44 Mg/ha CO2-eq (1.229,81 Mg/ha CO2-eq). Adapun nilai ekonomi karbon di Kabupaten Purbalingga mencapai US$ 8.569.742,55 (IDR 122.980.518.951) dengan nilai rata-rata per hektar mencapai US$ 333.850 (IDR 4.790.931).
Abtrak (Bhs. Inggris)
Currently, one of the human problems is climate change, which is marked by the increase in global temperature due to increasing greenhouse gases concentrations. Therefore, all countries in the world made an agreement through the Kyoto Protocol to reduce greenhouse gas emissions as a cause of increasing earth’s temperature. Community forest is a type of the field utilizations which have a role to mitigate the climate change process because a main function as a producer of wood (emissions contributor), and effectiveness of carbon sink and store. The number of carbons stored by living trees on a land can describe the numbers of CO2 in the atmosphere and absorption of carbon stocks. However, the composition data, structure, potential of carbon stocks and economic value of carbon stocks in forest ecosystem is needed be studied to support the calculation of potential carbon stocks and the economic value of community forest lands in Purbalingga Regency. This research was descriptive quantitative with data collection techniques through measurements, interviews, and literature study. Determination of sample plots was conducted purposively based on the representation of community forest stands in Purbalingga Regency, namely community forests with cardamom (E), coffee (K), pineapple (B) and non-agroforestry (T) agroforestry types. Each sample plot was replicated three times at different locations, so there were 12 sample plots measuring 20x50 m (0.1 ha). The carbon pools measured were above-ground biomass (BAP), below-ground biomass (BBP), and soil (TNH). The parameters measured were biomass (Mg/ha), carbon stock (Mg/ha), carbon sequestration (Mg/ha CO2-eq), and the economic value of carbon (US$/IDR). Vegetation measurements were conducted non-destructively (without logging) on two levels of vegetation growth, namely the level of poles and trees. Meanwhile, soil carbon stock measurements were conducted on disturbed soil and undisturbed soil samples. Analysis of stand composition and structure data used the Important Value Index (IVI); biomass and carbon stocks data used allometric equations and laboratory tests of soil samples. The results showed that community forests in Purbalingga Regency were generally cultivated on yards, dry fields, and mixed gardens. The spatial distribution of community forests in 13 of the 18 sub-districts in Purbalingga Regency was almost evenly distributed throughout, especially on dry land with an altitude of 167 to 915 meters above sea level. The composition of the vegetation consists of 30 species belonging to 20 families. The vertical structure consisted of three layers, namely Stratum A, Stratum B, and Stratum C. The structure of community forests in Purbalingga Regency, in horizontally, was divided into 6 diameter classes, namely Diameter Class II, III, IV, V, VI, and VII, with the level of tree density being inversely proportional to the increase in diameter (forming a curve with an inverted J). The potential of community forest biomass in Purbalingga Regency with cardamom agroforestry types were 347.56 Mg/ha (average 115.85 Mg/ha), coffee was 488.90 Mg/ha (162.97 Mg/ha), pineapple was 475.11 Mg/ha (158.37 Mg/ha), and non-agroforestry was 393.19 Mg/ha (131.06 Mg/ha). The total was 1,704.75 Mg/ha (142.06 Mg/ha). Potential carbon stocks of community forests in Purbalingga Regency with cardamom agroforestry types were 163.35 Mg/ha (average 54.45 Mg/ha), coffee was 229.78 Mg/ha (76.59 Mg/ha), pineapple was 223.30 Mg/ha (74.43 Mg/ha), and non-agroforestry was 184.80 Mg/ha (61.60 Mg/ha). The total was 801.23 Mg/ha (66.77 Mg/ha). The potential carbon stock in Purbalingga Regency from the biomass carbon pool (BAP and BBP) was 1,713,948.51 Mg and the soil carbon pool was 1,309,654.83 Mg. The carbon sequestration potential at tree level biomass was 1,216.75 Mg/ha CO2-eq, pole level biomass was 1,723.78 Mg/ha CO2-eq, and soil carbon pool was 748,91 Mg/ha CO2-eq. The total reached 3,689.44 Mg/ha CO2-eq (1,229.81 Mg/ha CO2-eq). The economic value of carbon in Purbalingga Regency was US$ 8,569,742.55 (IDR 122,980,518,951) with an average per hectare of US$ 333,850 (IDR 4,790,931).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save