Home
Login.
Artikelilmiahs
34212
Update
URSA AURELLIA NABILA
NIM
Judul Artikel
Politik Uang dan Perilaku Memilih Masyarakat Kecamatan Cilongok Dalam Pemilihan Kepala Daerah Banyumas Tahun 2018
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Politik uang merupakan media transaksional bagi kandidat dan pemilih untuk saling menguntungkan dalam pemilu atau suksesi kepemimpinan lainya. Kondisi yang saling menguntungkan tersebut justru membuat nilai-nilai demokrasi dalam pemilu menjadi luntur karena dengan uang mencederai kejujuran, sportifitas persaingan serta menimbulkan persaingan yang tidak adil bagi calon-calon yang lain. Praktik politik uang tersebut juga terjadi saat pemilihan kepala daerah Banyumas 2018 oleh kedua pasangan calonya yaitu baik pasangan calon nomor urut 1 Drs. H. Mardjoko, M.M /Dr. Ir. H Ifan Haryanto dan pasangan calon nomor urut 2 Ir. H Achmad Husein/Drs. H. Sadewo Tri Lastono. Jumlah penduduk kecamatan Cilongok termasuk paling banyak di Banyumas sehingga di kecamatan Cilongok juga menyumbangkan suara yang paling banyak pada PILKADA Banyumas 2018 dan juga politik uang masih massif terjadi di Kecamatan Cilongok. Sehingga politik uang yang terjadi Kecamatan Cilongok menarik untuk diteliti. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dan dengan perspektif strukturalisme, serta metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Kemudian, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan studi kasus. Teknik pemilihan informan menggunakan metode purposive sampling dan snowball sampling. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi, serta studi dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan teknik analisis data interaktif. Sedangkan untuk keabsahan data menggunakan teknik triangulasi data. Hasil dari penelitian ini adalah pola politik uang yang sering dilakukan oleh calon kandidat berupa Vote Buying (politik uang) dan juga Club Goods (barang kelompok). Vote Buying paling sering digunakan di daerah Kecamatan Cilongok pada Pilkada Banyumas 2018. Dalam penelitian ini imbalan yang diberikan kepada masyarakat yang memiliki hak pilih dibagikan dua minggu menjelang pemungutan suara atau bisa juga dalam waktu menjelang hari H pencoblosan nominal yang diberikan para pasangan calon tersebut berkisar 25-100 ribu rupiah dan barang berupa sebungkus rokok sedangkan pola Club Goods (barang kelompok) berupa penyewaan tenda dengan harga dibawah pasaran dan juga renovasi masjid. Sasaran transaksi pembelian suara pada Pilkada banyumas 2018 bukan hanya pada perorangan yang sembunyi-sembunyi saja melainkan dengan cara terang-terangan melalui kelompok-kelompok hajatan, pengajian dan sebagainya. Politik Uang memang sangat jelas memberikan pengaruh dalam bentuk partisipasi politik untuk melakukan pemilihan dalam pilkada Banyumas 2018. Tetapi belum dalam memastikan apakah calon yang memberikan uang atau barang yang mendapatkan suara dari pemilih tersebut bahkan ketika pemilihan masyarakat dapat menjatuhkan pilihannya pada kandidat yang lain. politik uang yang diberikan oleh kedua pasangan calon maupun timses menimbulkan sikap masyarakat yang kurang setuju dengan adanya pemberian uang maupun barang namun sudah menjadi budaya yang sulit dihilangkan. Sikap maupun pandangan masyarakat kecamatan cilongok bagi pemilih perempuan jauh lebih kritis dibandingkan pemilih laki-laki.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Money politics is a transactional medium for candidates and voters to benefit each other in elections or other leadership successions. This mutually beneficial condition actually makes democratic values in the election fade because money hurts honesty, competitive sportsmanship and creates unfair competition for other candidates. The practice of money politics also occurred during the 2018 Banyumas regional head election by the two candidate pairs, namely candidate pair number 1 Drs. H. Mardjoko, M.M /Dr. Ir. H Ifan Haryanto and candidate pair number 2 Ir. H Achmad Husein/Drs. H. Sadewo Tri Lastono. The population of the Cilongok sub-district is the largest in Banyumas so that in the Cilongok sub-district also contributed the most votes in the 2018 Banyumas PILKADA and money politics is still massive in Cilongok District. So that the money politics that occurred in Cilongok District is interesting to study. This study uses a constructivism paradigm and with a structuralism perspective, and the method used is a qualitative research method. Then, the approach used is a case study approach. The informant selection technique used purposive sampling and snowball sampling methods. While the data collection techniques used in-depth interviews, observation, and documentation studies. The data analysis technique used is to use interactive data analysis techniques. As for the validity of the data using data triangulation techniques. The results of this study are patterns of money politics that are often carried out by prospective candidates in the form of Vote Buying (money politics) and also Club Goods (group goods). Vote Buying is most often used in the Cilongok District area in the 2018 Banyumas Pilkada. In this study, the rewards given to people who have the right to vote are distributed two weeks before voting or it could be in the time before the D day of voting, the nominal given by the candidate pairs is around 25 -100 thousand rupiah and goods in the form of a pack of cigarettes, while the Club Goods pattern (group goods) is in the form of renting tents at below market prices and also renovation of mosques. The target of vote-buying transactions in the 2018 Banyumas Pilkada is not only individuals who covertly but openly through celebration groups, recitations and so on. Money politics is very clear in giving influence in the form of political participation to conduct elections in the 2018 Banyumas election. The money politics given by the two pairs of candidates and the Timses has led to public attitudes that do not agree with the provision of money or goods, but it has become a culture that is difficult to remove. The attitudes and views of the Cilongok sub-district community for female voters are far more critical than male voters.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save