Home
Login.
Artikelilmiahs
34151
Update
ERINA SUKMAWATI
NIM
Judul Artikel
LAJU PERUBAHAN LAHAN DI SUB DAS PUTIH (DAS HULU SERAYU) DENGAN METODE MINIMUM DISTANCE CLASSIFICTION (MDC) DAN SPECTRAL ANGLE MAPPER (SAM)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Aliran Sungai DAS Serayu merupakan salah satu DAS terbesar di Indonesia yang masuk dalam jajaran DAS kritis dengan luas wilayah sebesar 358.514,57 Ha. Salah satu contoh kasus di DAS Serayu yang menjadi isu nasional adalah adanya kerusakan di daerah hulu tepatnya di kawasan Dieng yang mengalami kerusakan erosi sekitar 161 ton/ha/tahun di Waduk Jenderal Sudirman. Metode penginderaan jauh Minimum Distance Classifiction (MDC) dan Spectral Angle Mapper (SAM) digunakan untuk mengklasifikasikan daerah yang menjadi objek penelitian yaitu Sub Das Putih Das Serayu. Klasifikasi tutupan lahan dibagi menjadi tiga kelas yaitu dense vegetation, agriculture, dan settlement. Citra landsat menggunakan Landsat 7 dan 8 pada rentang waktu 2009 sampai 2019. Pada MDC luasan tertinggi untuk pertanian, ini dibuktikan pada tahun 2009 menunukkan persentase 63%, mengalami kenaikan ditahun 2014 yaitu 70%, dan mengalami penurunan ditahun 2019 yaitu 66% sedangkan pada SAM luasan tertinggi untuk pertanian, ini dibuktikan pada tahun 2009 menunukkan persentase 63%, mengalami kenaikan ditahun 2014 yaitu 75%, dan mengalami penurunan ditahun 2019 yaitu 73%. Klasifikasi perubahan lahan tersebut menghasilkan nilai RMSE yang berbeda di tiap kelasnya, semakin kecil nilai RMSE maka semakin akurat metode yang digunakan. Hasil yang didapat pada penelitian ini nilai RMSE yang berbeda pada tiap metodenya, untuk MDC sebesar 57,09 dan SAM 51,82. Kenaikan luasan lahan pertanian dan pemukiman yang terjadi pada Sub DAS Putih sebagai penyebab tingginya erosi di daerah hilir DAS Serayu sehingga diperlukan usaha konservasi berupa penjagaan luasan daerah tangkapan air berupa hutan, usaha pertanian yang memeperhatikan konservasi tanah dan air, dan lain-lain.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The Serayu river basin is one of the largest river basins in Indonesia, with a critical river area of 358,514.57 ha. A case in das serayu that is a national issue is that damage is done upstream to exactly the eng region that suffered erosion approximately 161 ton/ha/ year in the Sudirman reservoir. The far Minimum Distance Classification method (MDC) and Spectral Angle Mapper (Sam) were used to classify the area as the research object the Putih sub-das Serayu. The classification of land is divided into three classes: dense vegetation, agriculture, and settlement. Landsat image uses landsat 7 and 8 from 2009 to 2019. At the highest MDC emissions for agriculture, this was proven in 2009 for halting 63% percentages, in 2014 raising 70%, and in 2019 declines to 66%, while SAM in 2009 the 63% maximum for agriculture, was established in 2009 for 63% increase, 2014 75%, and a 73% decline in 2019. The land-change classification produced a different rmse value in each class, the less rmse's value the more accurate the methods used. The results obtained in this study are a different rmse value on each method, for MDC at 57.09 and Sam 51.82. The increase in agricultural land and settlement on the Putih river basin is responsible for the erosion of downstream areas and the need for conservation of wood-captured areas, agriculture that concerns land and water conservation, etc.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save