Home
Login.
Artikelilmiahs
33052
Update
FIKI NI'MATUL JANNAH
NIM
Judul Artikel
PENGARUH VARIASI pH PELARUT DAN SUHU EKSTRAKSI TERHADAP WARNA EKSTRAK BIJI KESUMBA SERTA POTENSINYA DALAM MENGHAMBAT Bacillus subtilis
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tanaman kesumba (Bixa orellana L.) adalah tanaman belukar tropis yang menghasilkan biji berwarna merah. Lapisan luar dari biji kesumba mengandung kondimen warna merah-orange yang disebut dengan annatto. Biji kesumba memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai pewarna alami pada makanan yang aman karena mengandung senyawa karotenoid bixin dan norbixin. Ekstraksi biji kesumba menggunakan pelarut akuades dengan perlakuan variasi pH pelarut dan suhu ekstraksi berpotensi untuk menghasilkan pewarna alami yang cukup bagus, akan tetapi potensi antibakteri ekstrak biji kesumba belum diketahui terutama aktivitas antibakteri terhadap Bacillus subtilis. Penelitian ini mengkaji mengenai pengaruh pH pelarut, suhu ekstraksi maupun interaksi pH pelarut dengan suhu ekstraksi terhadap potensi pewarna alami dan aktivitas antibakteri ekstrak biji kesumba yang dihasilkan. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan 9 kombinasi perlakuan dan 3 kali ulangan. Faktor yang diteliti yaitu pH pelarut (P) meliputi pH 4 (P1), pH 7 (P2), dan pH 9 (P3); suhu ekstraksi (S) meliputi suhu 70˚C (S1), suhu 80˚C (S2), dan suhu 90˚C (S3). Ekstraksi dilakukan secara maserasi selama 10 menit dengan kecepatan pengadukan 2000 rpm. Pengujian varibel warna menggunakan metode absorbansi pada rentang panjang gelombang 400-800 nm. Pengujian variabel antibakteri menggunakan 3 metode, yaitu metode difusi sumuran, TPC (Total Plate Count) dan MIC (Minimum Inhibitory Concentration). Bakteri patogen yang digunakan yaitu Bacillus subtilis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik ekstrak biji kesumba dengan pelarut akuades pada variasi pH pelarut dan suhu ekstraksi adalah sampel P2S2 (pH 7, suhu 80˚C). Hasil perlakuan tersebut meliputi nilai absorbansi tertinggi yaitu 1,051, aktivitas antibakteri terhadap B.subtilis dengan diameter zona hambat sebesar 5,17 mm (kekuatan hambat sedang), MIC pada konsentrasi 20% dan nilai TPC terendah pada konsentrasi 30% sebesar 6,345 cfu/ml.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Kesumba plant (Bixa orellana L.) is a tropical plant that produced red seeds. The outer layer of the red seed contains condiment with the color is red-orange which is called annatto. Kesumba seed has a good potency as a natural safe dye for food because it contains carotenoid bixin and norbixin. Kesumba seed extraction using aquadest solvent which is treated with various pH solvents and extraction temperature is potential to produce good natural dye, but the antibacterial kesumba seed is not known yet especially antibacterial activity towards Bacillus subtilis. This research finds the influence of ph solvent, extraction temperature, as well as the interaction between ph solvent and extraction temperature toward natural dye potency and the activity production of antibacterial kesumba seed extraction. This research used an experimental method with a randomized block design of 9 treatment combinations and 3 repetitions. The experimented factors were pH solvent (P) included pH 4 (P1), pH 7 (P2), and pH 9 (P3); extraction temperature (S) included 70°C (S1), 80°C (S2), and 90°C (s3). Extraction was carried out by maceration for 10 minutes with a mixing speed of 2000 rpm. The color potential of the extract was measured using absorbent methods in the length of phase 400-800 nm. The potential of the extract as antibacterial was tested by looking at its ability to inhibit pathogenic bacteria using the well method to measure the inhibition zone, TPC (total plate count), and MIC (minimum inhibitory concentration). The pathogenic bacteria used were Bacillus subtilis (Gram positive bacteria). Research result show that the best treatment in kesumba seed extraction with aquades solvent was the P2S2 sample (ph 7, 80°C). The result was the highest absorbance which was 1,051, antibacterial activity towards B.subtilis in diameter blocked zone 5,17 mm (medium blocked power), MIC in 20% concentration, and the lowest TPC in 30% which was 6,345 log cfu/ml.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save