Home
Login.
Artikelilmiahs
32923
Update
ARIDA KHUSNUL KHOTIMAH
NIM
Judul Artikel
GERAKAN SOSIAL BARU DAN KAJIAN SUBALTERNITAS DALAM “SILENCED 2011”: Representasi Perjuangan Melawan Kekerasan Seksual terhadap Kelompok Difabel Tunarungu di Korea Selatan
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Artikel hasil penelitian ini bertujuan untuk: 1) Memahami dan mendeskripsikan bentuk gerakan sosial baru dan subalternitas dalam Film Silenced (2011). 2) Memahami dan menjelaskan gerakan sosial baru yang merepresentasikan perjuangan melawan kekerasan seksual terhadap kelompok difabel tunarungu di Korea Selatan dalam Film Silenced (2011). Dengan menggunakan metode kualitatif dalam bingkai perspektif pascastrukturalis dan paradigma dekonstruksionisme, penelitian ini menggunakan semiotika sebagai pendekatan penelitian. Teknik yang digunakan untuk menganalisa data yang terkumpul dalam penelitian ini adalah teknik analisis semiotika Roland Barthes dengan menggunakan Pemaknaan Bertingkatnya. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa gerakan sosial baru dan subalternitas dapat ditelusuri melalui film, seperti yang terdapat dalam film karya Hwang Dong Hyuk yang berjudul Silenced (2011) khususnya untuk merepresentasikan perjuangan melawan kekerasan seksual terhadap kelompok difabel tunarungu di Korea Selatan. Melalui berbagai macam adegan pilihan yang telah ditetapkan menjadi sasaran penelitian, maka ditemukan bahwa adanya dukungan struktur kesempatan politik telah memberikan dampak positif terhadap perkembangan Gerakan Sosial Baru kelompok minoritas di Korea. Hal ini terlihat pada keragaman bentuk tuntutan dalam gerakan perjuangan yang merepresentasikan kesadaran kelompok minoritas khususnya difabel akan akar dari sumber diskriminasi dan ketidakadilan yang selama ini mereka alami seperti yang dilakukan oleh penyandang difabel tunarungu dalam Film Silenced (2011). Namun, meski masih termasuk kedalam satu payung gerakan difabel, nyatanya setiap gerakan perjuangan penyandang difabel di Korea Selatan memiliki ciri khas tersendiri sebagai representasi atas kekecewaan dan tuntutan akan hak mereka yang selama ini telah direnggut paksa. Karakteristik gerakan tersebut juga ditunjukkan dalam Film Silenced (2011), khususnya dalam adegan aksi duduk diam sebagai representasi suara para penyandang difabel tunarungu korban kekerasan seksual yang selama ini tidak pernah didengar dan diabaikan. Adanya karakteristik gerakan tersebut juga menandakan perkembangan Gerakan Sosial Baru kelompok difabel di Korea Selatan. Di mana dalam gerakan-gerakan tersebut ditemukan adanya pola pergeseran orientasi perjuangan yang awalnya masih berfokus pada care dan charity kemudian berkembang menjadi rights. Sebagai sebuah gerakan sosial baru kelompok minoritas, banyaknya sumber pelabelan subalternitas yang melekat kuat pada diri penyandang difabel seperti diskriminasi, ketidakadilan, keterbatasan sumber daya, serta budaya masyarakat yang masih belum mendukung juga membuat gerakan kelompok difabel di Korea Selatan seperti yang dilakukan oleh penyandang difabel tunarungu dalam Film Silenced 2011 masih termasuk ke dalam Gerakan Sosial Baru berkelanjutan yang mana gerakan ini membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Selain itu dalam penelitian ini film juga menjadi bukti penting dalam kajian cultural studies, dimana film dapat digunakan untuk membongkar praktik hegemoni budaya, ideologi, atau wacana melalui tanda.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The research article aims to 1) Understand and describe new forms of social movements and subalternity in the Film Silenced (2011). 2) Understand and explain a new social movement that represents the struggle against sexual violence against people with hearing disabilities in South Korea in the film "Silenced (2011)". Using qualitative methods in the frame of a poststructuralist perspective and the paradigm of deconstructionism, this study used semiotics as a research approach. The technique used to analyze the data collected in this study is Roland Barthes' semiotic analysis technique using the multi-level meaning system. This study revealed that the new social movements and subalternity could be traced through the Film, as contained in the film work of Hwang Dong-Hyuk with titled Silenced (2011), mainly to represent the struggle of sexual violence against people with hearing disabilities in South Korea. Through the variety of scenes that have been chosen to be the research's target, it found that the support of the political opportunity structures has a positive impact on the development of the new social movements of minority groups in Korea. The positive effect can be seen in the diversity of the movement's demands that represent the consciousness of minority groups, particularly people with disabilities, about the root of the discrimination and injustice that they experienced as perceived people with hearing disabilities in the Film Silenced 2011. However, although still included in the frame of the disability movement, every action of the struggle of persons with disabilities in South Korea has its characteristics representing the disillusionment and the demands for their rights snatching away forcibly. The characteristic of the disability movement is also shown in the Film Silenced 2011, especially in the silent protest scene as a representation of the voices of the people with hearing disabilities victims of sexual violence who have not been heard and ignored. The characteristics of the disability movement also indicated the development of the new social movement from disabilities group in South Korea, wherein the actions find a pattern shift in the orientation of the struggle was still focused on the care and charity then evolved into rights movement. As a new social movement of minority groups, the number of sources of labeling subalternity attached strong on people with disability as discrimination, injustice, resource constraints, and the cultures that still do not support. Also, make the disabilities movement in South Korea, including people with hearing disabilities in the Film Silenced (2011), is classified in the New Social Movement, which is still sustaining. This movement takes quite a long time to achieve the goals aspired. In addition, in this research, Film also becomes crucial evidence in cultural studies. A film can dismantle the practice of cultural hegemony, ideology, or discourse through the sign.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save