Home
Login.
Artikelilmiahs
32448
Update
SEKAR LAYUNG PRABANDARI
NIM
Judul Artikel
PENGARUH pH PELARUT DAN SUHU EKSTRAKSI TERHADAP WARNA EKSTRAK BIJI KESUMBA (Bixa orellana. L) DAN POTENSINYA SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tanaman kesumba (Bixa orellana) merupakan salah satu tanaman yang jarang diketahui oleh masyarakat luas, begitu pula dengan khasiat nya. Sebagian besar masyarakat mengetahui manfaat biji kesumba hanya digunakan anak-anak sebagai pewarna kuku atau kuteks karena pigmen pada biji kesumba sangat mudah keluar. Pigmen yang dihasilkan dari biji kesumba disebut annatto yang didapatkan dari berbagai macam pigmen karotenoid. Pigmen yang terdapat pada biji kesumba ini memiliki potensi sebagai pewarna pada makanan, selain itu biji kesumba juga memiliki aktivitas antibakteri karena mengandung senyawa saponin, tanin, steroid dan glikosida. Faktor yang mempengaruhi warna dan aktivitas antibakteri antara lain adalah pH pelarut dan suhu ekstraksi. Ekstraksi biji kesumba menggunakan pelarut air (aquades) dengan perlakuan variasi pH pelarut dan suhu ekstraksi diketahui dapat menghasilkan intensitas warna yang tinggi, tetapi ekstraksi biji kesumba menggunakan pelarut aquades berdasarkan pH pelarut dan suhu ekstraksi sebagai antibakteri belum dapat diketahui. Penelitian ini mengkaji pengaruh perbedaan pH pelarut, suhu ekstraksi dan interaksi antara keduanya terhadap variabel warna dan aktivitas antibakteri ekstrak biji kesumba. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dari 9 kombinasi perlakuan 3 kali ulangan. Faktor yang dicoba yaitu pH pelarut (P) meliputi pH 4 (P1), pH 7 (P2), dan pH 9 (P3); suhu ekstraksi (S) meliputi 70℃ (S1), 80℃ (S2), dan 90℃ (S3). Ekstraksi dilakukan secara maserasi selama 10 menit. Potensi warna ekstrak diukur menggunakan alat Color reader untuk mengetahui tingkat kecerahan (L), tingkat kemerahan (a), dan tingkat kekuningan (b). Potensi ekstrak sebagai antibakteri diuji dengan melihat kemampuannya dalam menghambat bakteri patogen menggunakan metode sumuran untuk mengukur zona hambat. Bakteri patogen yang digunakan adalah Staphylococcus aureus (Bakteri Gram positif). Hasil penelitian menunjukkan peningkatan pH pelarut menyebabkan semakin rendah tingkat kecerahan pada warna ekstrak biji kesumba. Perlakuan pH 7 menghasilkan warna ekstrak biji kesumba dengan intensitas tingkat kemerahan dan tingkat kekuningan yang paling tinggi. Perlakuan pH 4 memiliki aktivitas antibakteri paling besar dengan kategori penghambatan sedang. Peningkatan suhu ekstraksi menyebabkan semakin tinggi tingkat kemerahan, serta kecenderungan penurunan pada tingkat kecerahan, dan tingkat penghambatan yang semakin besar. Perlakuan terbaik ekstrak biji kesumba terdapat pada perlakuan P1S3. Hasil perlakuan tersebut meliputi nilai kecerahan sebesar 40,8; kemerahan 9,60; kekuningan 40,10 dan aktivitas antibakteri dengan zona hambat sebesar 7,23 (kekuatan hambat sedang).
Abtrak (Bhs. Inggris)
The kesumba plant (Bixa orellana) is rarely known to the public. Most people know that children only use the benefit of kesumba as nail polish because the pigments of Kesumba seeds are very easy to come out. The pigment from kesumba seeds is called annatto which is obtained from various carotenoid pigments. The pigments found in Kesumba seeds have the potential as a coloring agent in food. In addition, kesumba seeds also have antibacterial activity because they contain saponins, tannins, steroids and glycosides. Factors that influence color and antibacterial activity include solvent pH and extraction temperature. Extraction of Kesumba seeds using water solvent (aquades) with varying treatment of solvent pH and extraction temperature produces high color intensity. Still, extraction of Kesumba seeds using aquades based on solvent pH and extraction temperature as antibacterial there are not research yet. This study examined the effect of differences in solvent pH, extraction temperature and the interaction between solvent pH and extraction temperature of the color variables and the antibacterial activity of the Kesumba seed extract. This study used an experimental method with a randomized block design of 9 treatment combinations with 3 replications. The factors tested were pH of the solvent (P) including pH 4 (P1), pH 7 (P2), and pH 9 (P3); Extraction temperature (S) includes 70℃ (S1), 80℃ (S2), and 90℃ (S3). Extraction was carried out by maceration for 10 minutes. The color potential of the extract was measured using a color reader to determine the level of brightness (L), redness (a), and yellowness (b). The potential of the extract as antibacterial was tested by looking at its ability to inhibit pathogenic bacteria using the well method to measure the inhibition zone. The pathogenic bacteria used were Staphylococcus aureus (Gram positive bacteria). The results showed that an increase in the pH of the solvent caused a lower brightness level in the color of the Kesumba seed extract. The pH 7 treatment resulted in the color of the Kesumba seed extract with the highest reddish intensity and yellowish level. The pH 4 treatment had the greatest antibacterial activity with the moderate inhibitory category. Increasing the extraction temperature causes a higher degree of redness, and a decreasing trend in the brightness level, and a greater degree of inhibition. The best treatment of Kesumba seed extract was in the P1S3 treatment. The results of these treatments include a brightness of 40.8; redness of 9.60; yellowness of 40.10 and antibacterial activity with an inhibition zone of 7.23 (moderate inhibitory strength).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save