Home
Login.
Artikelilmiahs
31669
Update
NURCHOLIS APRIAN
NIM
Judul Artikel
Fenomena Diskriminasi Gender pada Penari Lengger Lanang
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Lengger Lanang merupakan kesenian rakyat Banyumas yang baru-baru ini dihidupkan kembali dan disambut baik oleh penduduk setempat. Laki-laki itu berpakaian seperti perempuan dan menari ditemani Gamelan atau Karon. Tarian khas Banyumas ini dibawakan oleh laki-laki yang secara total menjelma menjadi perempuan pada saat menampilkan tariannya. Beberapa penari masih laki-laki, hidup seperti laki-laki, bahkan punya anak dan istri. Namun, ada juga yang transgender. Penelitian ini menggukan metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara serta dokumentasi serta literatur yang digunakan sebagai studi sebagai penguat hasil dari wawancara. Teknik keabsahan data menggunakan tringulasi sumber. Hasil dari penelitian ini adalah ditemukan diskriminasi yang dialami oleh penari lengger lanang karena dianggap sebagai kaum waria atau kaum LGBT dan dianggap suatu perkumpulan yang melakukan gerakan yang terlarang yang menggunakan riasan dan busana seperti perempuan saat melakukan pertunjukan. Pandangan mengenai laki-laki harus berpenampilan mengeluarkan sisi maskulinitasnya sehingga berpengaruh pada minat penerus pada tarian lengger lanang tersebut.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Lengger Lanang is a Banyumas folk art that has recently been revived and has been welcomed by the local population. The man is dressed like a woman and dances accompanied by Gamelan or Karon. This typical Banyumas dance is performed by men who totally transform into women when performing the dance. Some of the dancers are still male, live like men, and even have children and wives. However, there are also transgender people. This study uses qualitative research methods with data collection techniques used in this study are observation, interviews and documentation and literature used as a study to reinforce the results of interviews. The data validity technique used source tringulation. The result of this research is that there is discrimination experienced by lengger lanang dancers because they are considered as transgender or LGBT people and are considered as an association that carries out forbidden movements that use make-up and clothing like women when performing. The view that men must appear to bring out their masculinity will influence the successor's interest in the lengger lanang dance.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save