Home
Login.
Artikelilmiahs
31598
Update
FATHIYAH MARDIYANTI
NIM
Judul Artikel
PERAN PUSAT INFORMASI DAN KONSELING REMAJA DALAM UPAYA PENCEGAHAN PERILAKU MENYIMPANG SEKSUAL REMAJA (Studi pada PIK-R Aksiologi FISIP Unsoed)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini dilatarbelakangi permasalahan yang terjadi pada remaja yakni perilaku menyimpang seksual remaja. Untuk merespon permasalahan tersebut dibutuhkan upaya pencegahan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R), dimana para pengurusnya yang masih berusia remaja mampu melakukan kegiatan dalam rangka upaya tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses PIK-R Aksiologi di FISIP Unsoed dalam mencegah perilaku menyimpang seksual remaja serta untuk mengetahui faktor-faktor yang menjadi kendala atau hambatan dalam menjalankan peran tersebut. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik penentuan informan yaitu purposive sampling. Lokasi penelitian ini bertempat di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman, tepatnya di Jalan Prof.DR.H.R. Bunyamin 993 Purwokerto. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Sumber data yang diperoleh yaitu sumber data primer dan data sekunder. Penelitian ini menggunakan metode analisis interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah pencegahan perilaku menyimpang seksual remaja dilakukan PIK-R Aksiologi melalui berbagai proses dalam bentuk program kerja yaitu seperti adanya campaign, sosialisasi, studi banding, pemilihan Duta GenRe, dan layanan konseling. Untuk dapat menjalankan tujuan PIK-R Aksiologi dalam mencegah perilaku menyimpang seksual remaja diperlukan adanya pemberdayaan terhadap pengurus PIK-R Aksiologi sebagai acuan dalam melakukan berbagai kegiatan yang dilaksanakan. PIK-R Aksiologi dalam menjalankan perannya seringkali mendapatkan kendala baik internal maupun eksternal. Kendala internal yaitu kurangnya koordinasi yang baik antar pengurus dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya dan kendala eksternal juga terjadinya koordinasi yang kurang baik antar pengurus dengan pihak luar saat akan melaksanakan kerjasama dalam menjalankan program kerja. Selain itu, di era pandemi COVID-19 komunikasi antar pengurus menjadi terhambat oleh adanya PSBB.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research is based on the problems that occur in adolescents, namely adolescent sexual deviant behavior. To respond to these problems, preventive efforts are needed through the Center for Adolescent Information and Counseling (PIK R), where the administrators who are still teenagers are able to carry out activities in the framework of these efforts. The purpose of this study was to determine the process of PIK-R Axiology at FISIP Unsoed in preventing adolescent sexual deviant behavior and to determine the factors that become obstacles or obstacles in carrying out this role. This study used a qualitative descriptive method with the informant determination technique, namely purposive sampling. The location of this research is located at the Faculty of Social and Political Sciences, Jenderal Soedirman University, precisely on Jalan Prof. DR.H.R. Bunyamin 993 Purwokerto. Data collection methods in this study using in-depth interviews, observation, and documentation. Sources of data obtained are primary data sources and secondary data. This study uses an interactive analysis method from Miles and Huberman. The results showed that steps to prevent adolescent sexual deviant behavior were carried out by PIK-R axiology through various processes in the form of work programs, such as the existence of campaigns, outreach, comparative studies, election of GenRe Ambassador, and counseling services. To be able to carry out the objectives of PIK-R Axiology in preventing adolescent sexual deviant behavior, it is necessary to empower the PIK-R Axiology board as a reference in carrying out various activities carried out. PIK-R Axiology in carrying out its role often faces obstacles both internally and externally. Internal constraints, namely the lack of good coordination between managers in carrying out their main duties and functions and external constraints as well as poor coordination between administrators and outsiders when collaborating in carrying out work programs. In addition, in the era of the COVID-19 pandemic, communication between administrators was hampered by the existence of the PSBB.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save