Home
Login.
Artikelilmiahs
30362
Update
BAHARIDA META PRIHARTATO WIDODO
NIM
Judul Artikel
KAJIAN DISTRIBUSI SPASIAL AIR PADA LAHAN KENTANG DENGAN SISTEM GULUDAN HORIZONTAL DAN TEKNIK DRAINASE TERTENTU SERTA VARIASI JENIS PUPUK
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tingkat produktivitas tanaman kentang di Indonesia, khususnya daerah Jawa Tengah tingkat produktivitas tanaman kentang masih cukup rendah, sehingga diperlukan adanya upaya untuk meningkatkan produksi tanaman kentang. Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Kabupaten Purbalingga merupakan salah satu sentra produksi tanaman hortikultur , salah satunya ialah tanaman kentang. Proses budidaya tanaman kentang di Desa Serang umumnya masih dilakukan dengan cara konvensional, yaitu penggunaan sistem guludan vertikal yang dapat memicu adanya degradasi lahan dan erosi yang tidak terkendali. Proses budidaya tanaman kentang menggunakan sistem guludan horizontal dan penggunaan interval saluran drainase 2 meter terbukti cukup efektif dalam menangani degradasi lahan dan erosi, namun proses budidaya semacam ini belum mampu meningkatkan produktivitas tanaman kentang akibat kondisi waterlogging yang berdampak pada kualitas dan kesuburan tanah. Variasi perlakuan jenis pupuk yang sesuai diyakini dapat mengurangi kondisi waterlogging dan meningkatkan kesuburan tanah serta produktivitas tanaman kentang. Tingkat keberhasilan budidaya tanaman kentang tersebut ditentukan oleh analisis spasialnya yang masih belum banyak mendapat kajian secara mendalam. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola sebaran spasial air dalam tanah dari proses budidaya kentang dengan sistem guludan horizontal dan teknik drainase tertentu dan variasi jenis pupuk. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2019, pada lahan pertanian hortikultura di Desa Serang, Kabupaten Purbalingga, Laboratorium Teknik Pengelolaan dan Pengendalian Bio-Lingkungan (TPPBL) dan Laboratorium Ilmu Tanah/Sumber Daya Lahan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto. Penelitian ini disusun berdasarkan Rancangan Acak lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan, yaitu: A) pupuk urea & ponska dosis 125 kg/ha, B) pupuk NSL & nitrea dosis 41,67 kg/ha, C) pupuk NSL & nitrea dosis 83,33 kg/ha, D) pupuk NSL & nitrea dosis 125 kg/ha. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Analisis Krigging dan Analisis Semivariogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi kadar air, kerapatan tanah, dan konduktivitas hidrolik tanah pada masing-masing demplot, masing-masing perlakuan memiliki pola distribusi yang berbeda, dan mengalami perubahan pada setiap HST dimana keterkaitan kadar air cenderung memiliki range yang semakin kecil dengan bertambahnya kedalaman. Kadar air tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 10 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 0,7 – 1,8 m, 1,8 – 3,9 m, 1 – 2 m, dan 1,8 m dengan nilai sill berturut-turut berkisar pada 0,0008 – 0,00325, 0,00375 – 0,00500, 0,00130 – 0,00410; dan 0,0022 – 0,0090. Kadar air tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 20 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 1 – 2 m, 1,8 – 3,8 m, 1,8 – 2 m, dan 1,8 – 2 m dengan sill berturut-turut berkisar pada 0,0015 – 0,0042, 0,003 – 0,016, 0,0016 – 0,0029; dan 0,0012 – 0,0090. Kerapatan tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 10 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 1,44 – 2,17 m, 1,31 – 1,67 m, 2 – 4,05 m, dan 1,33 – 2,17 m dengan nilai sill berturut-turut berkisar pada 0,003 – 0,008, 0,013 – 0,016, 0,0045 – 0,015; dan 0,006 – 0,007. Kerapatan tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 20 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 1,25 – 2,57 m, 1,2 – 4,77 m, 2,0 – 3,6 m, dan 1,43 – 3,12 m dengan sill berturut-turut berkisar pada 0,001 – 0,007, 0,002 – 0,015, 0,021 – 0,047; dan 0,007 – 0,045. Konduktivitas hidrolik tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 10 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 2 m, 2 m, 2 m, dan 2 m dengan nilai sill berturut-turut berkisar pada 8,42 x 10-6 – 1 x 10-4, 1,29 x 10-5 – 1 x 10-4, 1,35 x 10-5 – 2,4 x 10-4; dan 1,85 x 10-5 – 2,2 x 10-4. Konduktivitas hidrolik tanah pada Demplot A, B, C, dan D dengan kedalaman 20 cm rata-rata terkorelasi pada range berturut-turut 2 m, 2 m, 2 m, dan 2 m dengan sill berturut-turut berkisar pada 1,59 x 10-5 – 4,28 x 10-5, 1,37 x 10-5 – 2,7 x 10-4, 2,45 x 10-5 – 9 x 10-5; dan 3,40 x 10-5 – 3,30 x 10-4.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The productivity of potato in Indonesia, especially central Java, the productivity of potato is still quite low, so efforts are needed to increase the production of potato. Serang Village, Karangreja District, Purbalingga Regency is one of the centers of horticultural plant production, one of them is potato plant. The process of cultivating potato in Serang Village is generally still done in a conventional way, with vertical ridge system that can trigger land degradation and uncontrolled erosion. The process of cultivating potato crops are using a horizontal ridge system and using drainage channel system with intervals of 2 meters proved quite effective in handling land degradation and erosion, but this kind of cultivation process has not been able to increase the productivity of potato crops due to waterlogging conditions which is impacting quality and fertility of the soil. Variations in the treatment of suitable fertilizer types are believed to reduce waterlogging conditions and improve soil fertility as well as the productivity of potato crops. The success rate of cultivation of potato crops is determined by spatial analysis that still does not get much in-depth study. This research aims to identify spatial distribution patterns of water in the soil from the process of cultivating potatoes with horizontal mound system and certain drainage techniques and variations of fertilizer types. The research was conducted in September until December 2019, at the horticulture farm in Serang Village, Purbalingga, Laboratory of Bio-Environmental Management and Control Engineering (TPPBL) and Soil / Land Science Laboratory, Faculty of Agriculture, Jenderal Soedirman University, Purwokerto. This study was prepared based on a Completely Randomized Design (CRD) consisting of 4 treatments, namely: A) urea & ponska fertilizer dose of 125 kg/ha, B) NSL & nitrea fertilizer dose of 41,67 kg/ha, C) NSL & nitrea fertilizer dose of 83,33 kg/ha, D) NSL & nitrea fertilizer dose of 125 kg/ha. Data analysis in this study uses Krigging Analysis and Semivariogram Analysis The results showed that the distribution of water content, soil density, and soil hydraulic conductivity in each experimental plot, each treatment had different distribution patterns, and underwent changes in each Day After Planting (DAP) where the water content association tended to have a smaller range with increased depth. Soil water content in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 10 cm correlated on average at consecutive ranges of 0.7 – 1.8 m, 1.8 – 3.9 m, 1 – 2 m, and 1.8 m with successive sill values ranging from 0.0008 – 0.00325, 0.00375 – 0.00500, 0.00130 – 0.00410; and 0.0022 – 0.0090. Soil water content in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 20 cm are on average correlated at consecutive ranges of 1 – 2 m, 1.8 – 3.8 m, 1.8 – 2 m, and 1.8 – 2 m with successive sills ranging from 0.0015 – 0.0042, 0.003 – 0.016, 0.0016 – 0.0029; and 0.0012 – 0.0090. Soil density in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 10 cm is correlated on consecutive ranges of 1.44 – 2.17 m, 1.31 – 1.67 m, 2 – 4.05 m, and 1.33 – 2.17 m with successive sill values ranging from 0.003 – 0.008, 0.013 – 0.016, 0.0045 – 0.015; and 0.006 – 0.007. Soil density in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 20 cm is correlated on consecutive ranges of 1.25 – 2.57 m, 1.2 – 4.77 m, 2.0 – 3.6 m, and 1.43 – 3.12 m with successive sills ranging from 0.001 – 0.007, 0.002 – 0.015, 0.021 – 0.047; and 0.007 – 0.045. Soil hydraulic conductivity in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 10 cm is on average correlated at consecutive ranges of 2 m, 2 m, 2 m, and 2 m with consecutive sill values ranging from 8.42 x 10-6 – 1 x 10-4, 1.29 x 10-5 – 1 x 10-4, 1.35 x 10-5 – 2.4 x 10-4; and 1.85 x 10-5 – 2.2 x 10-4. Soil hydraulic conductivity in Experimental Plot A, B, C, and D with a depth of 20 cm is on average correlated at consecutive ranges of 2 m, 2 m, 2 m, and 2 m with successive sill ranges from 1.59 x 10-5 – 4.28 x 10-5, 1.37 x 10-5 – 2.7 x 10-4, 2.45 x 10-5 – 9 x 10-5; and 3.40 x 10-5 – 3.30 x 10-4.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save