Home
Login.
Artikelilmiahs
28650
Update
ILYASA' SONI
NIM
Judul Artikel
PENGARUH KADAR SLS TERHADAP KARAKTERISTIK SABUN PADAT ANTIBAKTERI MINYAK BIJI NYAMPLUNG (Calophyllum inophyllum) DENGAN ADITIF EKSTRAK TEMU GIRING (Curcuma heyneana)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian sabun antibakteri berbahan dasar minyak biji nyamplung telah dilakukan dan telah memiliki karakteristik sesuai dengan SNI, namun masih memiliki daya pembusaan dan stabilitas busa yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kadar SLS (Sodium Lauryl Sulfate) terhadap karakteristik sabun, mengetahui formulasi sabun padat antibakteri terbaik berdasarkan SNI 3532-2016 dan mengetahui aktivitas antibakteri sabun dengan karakteristik terbaik. Karakterisasi sabun meliputi jumlah lemak total, asam lemak bebas, asam lemak tidak tersabunkan, derajat keasaman (pH) dan stabilitas busa. Uji hedonik dilakukan berdasarkan daya pembusaan dan stabilitas busa sabun. Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap sabun dengan karakteristik terbaik dan yang disukai oleh responden. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial (RAL factorial) dengan variabel bebas yaitu kadar SLS. Kadar SLS yang digunakan adalah 0,5%; 0,75%; 1%; 1,25%; 1,5%; 1,75%; 2% dan 2,25%. Hasil analisis yang menunjukkan adanya perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji DMRT (Duncan’s Multiple Range Test) tingkat kepercayaan 95% (α=0,05) dan 99% (α=0,01). Hasil penelitian menunjukkan sabun padat antibakteri yang memiliki formulasi terbaik adalah sabun SK4 atau sabun padat antibakteri dengan kadar SLS 1,25% dengan jumlah lemak total sebesar 26,27%, asam lemak bebas sebesar 1,025%, lemak tidak tersabunkan sebesar 4,25%, derajat keasaman (pH) sebesar 9,40 dan stabilitas busa sebesar 79,7%. Uji hedonik menghasilkan sabun yang paling disukai oleh responden yaitu sabun dengan kadar SLS sebesar 1,25%. Uji aktivitas antibakteri sabun dengan konsentrasi SLS 1,25% menghasilkan diameter hambat bakteri Staphylococus aureus sebesar 18,40 mm.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Research on antibacterial soaps based on nyamplung seed oil has been carried out and already has characteristics in accordance with SNI, but still has low foaming power and foam stability. This study aims to determine the effect of SLS (Sodium Lauryl Sulfate) levels on soap characteristics, determine the best antibacterial solid soap formulations based on SNI 3532-2016 and determine the antibacterial activity of soap with the best characteristics. Soap characterization includes total fat, free fatty acids, unsaturated fatty acids, acidity (pH) and foam stability. Hedonic tests are carried out based on foaming power and soap foam stability. Antibacterial activity test was carried out on soap with the best characteristics and preferred by respondents. The experimental design used was a factorial completely randomized design (RAL factorial) with independent variables, namely SLS levels. The SLS level used was 0.5%; 0.75%; 1%; 1.25%; 1.5%; 1.75%; 2% and 2.25%. The results of the analysis that showed a real difference continued with the DMRT test (Duncan's Multiple Range Test) of 95% confidence level (α = 0.05) and 99% (α = 0.01). The results showed that the best formulation of antibacterial solid soap was SK4 soap or antibacterial solid soap with SLS level of 1.25% with total fat of 26.27%, free fatty acids of 1.025%, unsaturated fat of 4.25%, acidity (pH) of 9.40 and stability of 79.7% foam. The hedonic test produced the most preferred soap by respondents, namely soap with an SLS level of 1.25%. The antibacterial activity test of soap with a 1.25% SLS concentration resulted in the inhibition diameter of Staphylococus aureus of 18.40 mm.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save