Home
Login.
Artikelilmiahs
28393
Update
SELMI JUNITA RAHMAWATI
NIM
Judul Artikel
Efek Pemberian Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera) Terhadap Gambaran Histopatologis Pembuluh Darah Aorta Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Model Hiperurisemia
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang: Ketidakseimbangan antara produksi dan ekskresi asam urat dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut hiperurisemia. Salah satu penyebab hiperurisemia karena meningkatnya konsumsi purin. Hiperurisemia dapat memicu pembentukan aterosklerosis melalui disfungsi endotel, peroksidasi lipid dan inflamasi. Daun kelor memiliki kandungan senyawa seperti flavonoid, tannin, saponin, fenol, vitamin C, dan vitamin E yang mempunyai kemampuan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antihiperurisemia. Tujuan: Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) terhadap gambaran histopatologis pembuluh darah aorta pada tikus putih (Rattus norvegicus) model hiperurisemia. Desain Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only with control group design. Bahan biologis tersimpan (BBT) dari 25 ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit (diberikan induksi otak sapi 20 gr/hari), kelompok C, D, E sebagai kelompok perlakuan (diberikan induksi otak sapi 20 gr/hari dan dosis ekstrak daun kelor dengan dosis 300, 600, 1200 mg/kgBB/hari). Hasil: Rerata ketebalan dinding pembuluh darah aorta pada kelompok A: 25,14 µm, kelompok B: 36,84 µm, kelompok C: 34,12 µm, kelompok D: 34,08 µm, kelompok E: 25,34 µm. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dilanjut dengan uji Post Hoc LSD. Uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p=0,030 (p<0,05). Uji Post Hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok A dengan kelompok B, C dan D, kelompok B dengan kelompok A dan E. Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun kelor pada dosis 1200 mg/kgBB/hari dapat mencegah penebalan dinding pembuluh darah aorta tikus putih model hiperurisemia.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Latar Belakang: Ketidakseimbangan antara produksi dan ekskresi asam urat dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut hiperurisemia. Salah satu penyebab hiperurisemia karena meningkatnya konsumsi purin. Hiperurisemia dapat memicu pembentukan aterosklerosis melalui disfungsi endotel, peroksidasi lipid dan inflamasi. Daun kelor memiliki kandungan senyawa seperti flavonoid, tannin, saponin, fenol, vitamin C, dan vitamin E yang mempunyai kemampuan sebagai antioksidan, antiinflamasi dan antihiperurisemia. Tujuan: Untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun kelor (Moringa oleifera) terhadap gambaran histopatologis pembuluh darah aorta pada tikus putih (Rattus norvegicus) model hiperurisemia. Desain Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only with control group design. Bahan biologis tersimpan (BBT) dari 25 ekor tikus putih dibagi dalam 5 kelompok yaitu kelompok A sebagai kontrol sehat, kelompok B sebagai kontrol sakit (diberikan induksi otak sapi 20 gr/hari), kelompok C, D, E sebagai kelompok perlakuan (diberikan induksi otak sapi 20 gr/hari dan dosis ekstrak daun kelor dengan dosis 300, 600, 1200 mg/kgBB/hari). Hasil: Rerata ketebalan dinding pembuluh darah aorta pada kelompok A: 25,14 µm, kelompok B: 36,84 µm, kelompok C: 34,12 µm, kelompok D: 34,08 µm, kelompok E: 25,34 µm. Analisa data pada penelitian ini menggunakan uji parametrik One Way ANOVA dilanjut dengan uji Post Hoc LSD. Uji One Way ANOVA menunjukkan nilai p=0,030 (p<0,05). Uji Post Hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara kelompok A dengan kelompok B, C dan D, kelompok B dengan kelompok A dan E. Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun kelor pada dosis 1200 mg/kgBB/hari dapat mencegah penebalan dinding pembuluh darah aorta tikus putih model hiperurisemia.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save