Home
Login.
Artikelilmiahs
27918
Update
MEGA DEWI LEGIANA
NIM
Judul Artikel
Hubungan Karakteristik Pasien Prolanis Hipertensi terhadap Willingness to Pay Layanan Kefarmasian di Wilayah Banyumas Timur
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien prolanis hipertensi dan nilai WTP pelayanan kefarmasian. Metodologi: Studi observasional dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien prolanis hipertensi di Banyumas wilayah Timur, digunakan teknik accidental sampling. Diperoleh 93 pasien, memenuhi syarat inklusi. Penelitian ini menggunakan hypothetical scenario untuk menawarkan layanan kefarmasian dan menggunakan payment scale Rp 0 – Rp 50.000,00 untuk mengukur WTP. Dilakukan analisis data univariat dan analisis bivariat (uji Spearman-rank dan uji PearsonI) Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pasien didominasi oleh perempuan, berusia >65 tahun, pendidikan akhir SD, tidak bekerja, dan memiliki pendapatan < Rp 1.600.000,00. Nilai rata-rata WTP (± SD) yang didapatkan sebesar Rp 19.623,65 (± Rp 15.237,90). Tidak terdapat hubungan antara karakteristik pasien dengan nilai WTP layanan, kecuali karakteristik pendapatan pasien (p = 0,009; p < 0,05; r = 0,271). Kesimpulan: Perlu adanya pengenalan lebih lanjut mengenai tugas dan fungsi apoteker pada seluruh pasien prolanis. Serta diharapkan dapat terlaksananya layanan yang serupa dengan layanan berbasis MTM bagi pasien prolanis untuk memaksimalkan efek terapi anti-hipertensi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara karakteristik pasien prolanis hipertensi dan nilai WTP pelayanan kefarmasian. Metodologi: Studi observasional dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah pasien prolanis hipertensi di Banyumas wilayah Timur, digunakan teknik accidental sampling. Diperoleh 93 pasien, memenuhi syarat inklusi. Penelitian ini menggunakan hypothetical scenario untuk menawarkan layanan kefarmasian dan menggunakan payment scale Rp 0 – Rp 50.000,00 untuk mengukur WTP. Dilakukan analisis data univariat dan analisis bivariat (uji Spearman-rank dan uji PearsonI) Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pasien didominasi oleh perempuan, berusia >65 tahun, pendidikan akhir SD, tidak bekerja, dan memiliki pendapatan < Rp 1.600.000,00. Nilai rata-rata WTP (± SD) yang didapatkan sebesar Rp 19.623,65 (± Rp 15.237,90). Tidak terdapat hubungan antara karakteristik pasien dengan nilai WTP layanan, kecuali karakteristik pendapatan pasien (p = 0,009; p < 0,05; r = 0,271). Kesimpulan: Perlu adanya pengenalan lebih lanjut mengenai tugas dan fungsi apoteker pada seluruh pasien prolanis. Serta diharapkan dapat terlaksananya layanan yang serupa dengan layanan berbasis MTM bagi pasien prolanis untuk memaksimalkan efek terapi anti-hipertensi. Objective: This study aimed to determine the relationship of the characteristics of hypertensive prolanis patients in Banyumas in the eastern region with the value of Willingness to Pay (WTP) to pharmacy services by pharmacists in hypertensive prolanis patients in East Region of Banyumas. Methodology: Observational study with a cross-sectional desaign. The study population was hypertension prolanis patients in the eastern Banyumas region. Sampling using accidental sampling technique. Obtained 93 patients who met the inclusion requirements. This study uses a hypothetical scenario to offer pharmaceutical services and uses a payment scale of Rp 0 - Rp 50,000.00 to measure WTP. Anlysis univariate and bivariate (Spearman-rank test dan Pearson test). Results: The results showed that the characteristics of the patients were dominated by women, aged> 65 years, elementary school education, not working, and had an income of <Rp 1,600,000.00 The average value of PAPs (± SD) obtained was Rp. 19,623.65 (± Rp. 15,237.90). There is no relationship between patients’s characteristics and amount of WTP services, except the characteristics of patient income (p = 0.009; p <0.05; r = 0.271). Conclusion: Further recognition of the duties and functions of the pharmacist is needed in all prolanis patients. It is also hoped that similar services will be carried out with MTM-based services for prolanis patients to maximize the effects of anti-hypertensive therapy.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save