Home
Login.
Artikelilmiahs
27290
Update
MIA BERLIAN
NIM
Judul Artikel
Kajian Pertumbuhan dan Umur Pertama Kali Bertelur pada Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica) yang Mendapat Pakan Tepung Maggot
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung maggot pada ransum puyuh betina terhadap pertumbuhan bobot badan dan umur pertama kali bertelur. Jenis Penelitian eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 5 kali ulangan, dan setiap ulangan terdiri dari 10 ekor puyuh. Materi penelitian terdiri dari 200 ekor burung puyuh betina umur 10 hari sampai umur 51 hari, ransum pakan terdiri dari jagung giling, dedak, bungkil kedelai, tepung ikan, tepung maggot, minyak, kapur, methionin, lisin; vitamin dan vaksin; kandang tipe battery dan kelengkapannya; serta seperangkat alat analisis proksimat. Perlakuan yang diberikan pada puyuh meliputi P1 (tepung maggot sebesar 2%), P2 (tepung maggot sebesar 4%), P3 (tepung maggot sebesar 6%), P4 (tepung maggot sebesar 8%). Pemberian tepung maggot dalam ransum puyuh petelur betina menghasilkan pertumbuhan bobot badan berkisar 3,71±0,26 gram/ekor/hari hingga 3,86±0,08 gram/ekor/hari dengan rataan 3,79±0,17 gram/ekor/hari, sedangkan umur pertama kali bertelur berkisar 46±2,68 hari hingga 49±1,79 hari dengan rataan 47,75±2,16 hari. Hasil analisis variansi menunjukkan bahwa pemberian tepung maggot dalam ransum puyuh petelur betina tidak berpengaruh (P>0,05) terhadap pertumbuhan bobot badan dan umur pertama kali bertelur. Kesimpulan penambahan tepung maggot hingga 8% pada ransum puyuh tidak mempengaruhi pertumbuhan (bobot tubuh) dan umur awal pertama kali bertelur burung puyuh petelur betina.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The Purpose of the study was to determine the effect of maggot flour on female quail rations on growth in body weight and age first spawning. Design of experiment research used a completely randomized design (CRD) with 4 treatments 5 replications, and each repetition consists of 10 quails. The research material consisted of 200 female quails 10 days to 51 days, feed rations consisting of corn meal, bran, soybean meal, fish meal, maggot flour, oil, lime, methionine, lysine; vitamins and vaccines; battery type enclosures and accessories; and a set of proxymate analysis tools. The treatments given to quail include P1 (maggot flour at 2%), P2 (maggot flour at 4%), P3 (maggot flour at 6%), P4 (maggot flour at 8%). Application of maggot flour in female quail laying rations produced weight growth ranging from 3,71 ± 0,26 grams/tail/day to 3,86 ± 0,08 grams/tail/day with an average of 3,79 ± 0,17 grams/tail/day, while the age at first laying ranges from 46 ± 2,68 day to 49 ± 1,79 day with an average of 47,75 ± 2,16 day. The result of the analysis of variance showed that the administration of maggot flour in the quail feed of female laying eggs had no effect (P > 0,05) on the growth of body weight and age at first spawning. The conclusion that the increase of maggot flour into 8% on quail rations does not affect the growth (body weight) and age for first lay a sow quail.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save