Home
Login.
Artikelilmiahs
26413
Update
WAHYU PRAMBAYUN SETIYARINI
NIM
Judul Artikel
EKSISTENSI TRADISI KIDUNGAN PADA PAGUYUBAN MUGI RAHAYU DI DESA TANGGERAN, KECAMATAN SOMAGEDE, BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penganut Islam Kejawen di Banyumas salah satunya yaitu Paguyuban Mugi Rahayu yang terbentuk tahun 2008 di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede. Paguyuban Mugi Rahayu ini merupakan paguyuban yang mempunyai semboyan nguri-uri kebudayaan Jawa yang dikombinasikan dengan ajaran agama Islam NU. Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan adalah Tradisi Kidungan yang dibahas dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif kualitatif. Sasaran penelitian adalah anggota Paguyuban Mugi Rahayu yang melaksanakan tradisi Kidungan. Terutama pengurus harian Paguyuban Mugi Rahayu. Tradisi Kidungan merupakan tradisi ritual menyanyi macapat secara bersama–sama yang dilakukan oleh sekelompok orang. Kidungan berisi kegiatan menyanyikan macapat yang berisi kata–kata Jawa kuno yang dianggap sebagai doa pengantar kepada Allah SWT saat mempunyai suatu hajat tertentu. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Paguyuban Mugi Rahayu memaknai Tradisi Kidungan sebagai suatu kebudayaan berupa seni tembang macapat yang dijadikan perantara untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT dan secara sosial sebagai alat untuk menolong orang lain ketika mempunyai hajat. Namun, yang menjadi kendala saat ini adalah anggota yang mengikuti tradisi Kidungan ini semakin berkurang karena adanya tuntutan kehidupan modern berupa pemenuhan kebutuhan ekonomi, hal ini menjadi ancaman akan eksistensi Tradisi Kidungan oleh Paguyuban Mugi Rahayu. Implikasi dari penelitian ini yaitu perlu adanya perhatian dan peran serta dari masyarakat, pemerintah Desa Tanggeran maupun pemerintah Kecamatan Somagede dan Kabupaten Banyumas untuk mempromosikan Tradisi Kidungan yang di dalamnya terdapat tembang-tembang macapat agar generasi muda tidak melupakan budaya tembang Macapat.
Abtrak (Bhs. Inggris)
One of the followers of Kejawen Islam in Banyumas is the Mugi Rahayu Circle of Friends which was formed in 2008 in Tanggeran Village, Somagede District. The Mugi Rahayu Circle of Friends is a group that has a motto of Javanese culture which is combined with the teachings of the Islamic religion of NU. One of the routine activities carried out is the Kidungan Tradition discussed in this study. This research uses descriptive qualitative research. The research targets were members of the Mugi Rahayu Circle of Friends who carried out the Kidungan tradition. Especially the daily manager of the Mugi Rahayu Circle of Friends. The Kidungan tradition is a ritual tradition of macapat singing together which is performed by a group of people. The song contains the activity of singing macapat which contains ancient Javanese words which are considered as introductory prayers to Allah SWT when he has a certain intention. The results of this study indicate that the Mugi Rahayu Society interprets the Kidungan Tradition as a culture in the form of the art of macapat song which is used as an intermediary to offer prayers to Allah SWT and socially as a tool to help others when having a lavatory. However, the current obstacle is that members who follow the Kidungan tradition are increasingly lacking due to the demands of modern life in the form of meeting economic needs, this is a threat to the existence of the Kidungan Tradition by the Mugi Rahayu Circle of Friends. The implication of this research is the need for attention and participation from the community, the village government of Tanggeran as well as the government of the District of Somagede and Banyumas Regency to promote the Kidungan Tradition in which there are macapat songs so that the younger generation does not forget the Macapat song culture.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save