Home
Login.
Artikelilmiahs
25435
Update
IIS IMROATUN SHOLIHAH
NIM
Judul Artikel
PENGARUH JENIS KAYU TERHADAP PRODUKSI JAMUR TIRAM PUTIH (Pleurotus ostreatus) DENGAN STRAIN BERBEDA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus Jacq. ex. Fr.) P. Kumm merupakan salah satu jenis jamur pangan yang banyak digemari di Indonesia sehingga banyak masyarakat yang membudidayakannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara jenis kayu dengan strain terhadap produksi jamur tiram putih (P. ostreatus), mengetahui jenis kayu yang memberikan produksi jamur tiram putih (P. ostreatus) paling baik, dan mengetahui strain yang memberikan produksi jamur tiram putih (P. ostreatus) paling baik. Metode penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor. Faktor pertama yaitu perbedaan jenis kayu yang terdiri atas tiga taraf yaitu kayu sengon, kayu karet, dan kayu campuran (sengon+karet). Faktor ke dua yaitu perbedaan strain yang terdiri atas tiga taraf yaitu strain InaCC F10 (Indonesian Culture Collection F10), strain BTR (Baturaden), dan strain PBG (Purbalingga). Parameter utama bobot basah tubuh buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata produksi bobot basah tubuh buah jamur tiram putih tertinggi pada jenis kayu karet (serbuk kayu karet 100%) sebesar 95,3 g, diikuti kayu campuran (serbuk kayu karet 50% + serbuk kayu sengon 50%) 84,4 g, dan kayu sengon (serbuk kayu sengon 100%) 71,3 g. Strain InaCC F10 menghasilkan rerata produksi bobot basah tubuh buah tertinggi sebesar 93,9 g, diikuti oleh strain Purbalingga 81,8 g, dan strain Baturaden 75,3 g. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ada interaksi antara jenis kayu dengan strain, tetapi tidak signifikan (P>0,05), jenis kayu karet yang memberikan produksi paling baik 95,3 g, dan strain InaCC F10 yang memberikan produksi jamur tiram putih paling baik 93,9 g.
Abtrak (Bhs. Inggris)
White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus Jacq ex. Fr.) P. Kumm is of the most popular edible mushroom in Indonesia, for that reason they are many peoples cultivate this mushroom. The objectives of the study were to examine the production of white oyster mushrooms using, the interaction between various sawdust and strain on the production of white oyster mushrooms, the various kind of sawdust use as medium, and the various strain of white oyster mushroom. The study use Randomized Block Design (RBD) with two factors as an experimental design. The first factor is the difference in wood species namely sengon wood, rubber, and mixture (sengon + rubber). The second factor is the difference in strains namely the strain of InaCC F10 (Indonesian Culture Collection F10), strain BTR (Baturaden), and PBG (Purbalingga). The main parameters are fruit body wet weight. The results showed that kind the type of rubber wood produced the highest average weight of fruit body of 95.3 g, followed by mixed wood (50% rubber wood and 50% sengon wood) of 84.4 g, and sengon wood of 71.3 g. The InaCC F10 strain produced the highest total mushroom fruit body weight 93.9 g, followed by Purbalingga strain 81.8 g, and Baturaden strain 75.3 g. The conclusion of this study is that there is an interaction between wood species and strain but not significant (P> 0.05), types of rubber wood which provides the best production 95.3 g, and the InaCC F10 strain which provides the best production of white oyster mushrooms.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save