Home
Login.
Artikelilmiahs
25330
Update
APRIYANTO
NIM
Judul Artikel
MARTABAK LEBAKSIU (Studi tentang Cerita Tutur Warga Masyarakat Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal tentang Martabak LBS)
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Martabak Lebaksiu sudah tersebar ke seluruh Indonesia mulai dari Jakarta, Semarang, NTT, Papua dan wilayah lainnya di dalam negeri, bahkan sudah sampai ke luar negeri salah satunya Jeddah Saudi Arabia. LBS menjadi merk dagang yang digunakan para pedagang martabak Lebaksiu, nama LBS sendiri merupakan singkatan dari Lebaksiu yang merujuk pada Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal yaitu tempat martabak Lebaksiu berasal dimana mayoritas warganya mengadu nasib ke seluruh Indonesia dengan berjualan martabak. Dibalik kisah martabak Lebaksiu terdapat sejarah dan kisah mulai dari kedatangan warga India sampai dengan martabak Lebaksiu yang memecahkan Rekor Muri sebagai martabak terbesar pada tahun 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan cerita tutur warga masyarakat Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal tentang “Martabak LBS”. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Penelitian dilakukan di Kecamatan Lebaksiu Kabupaten Tegal. Sasaran penelitiannya baik dari keturunan pendiri martabak LBS, cucu, maupun sanak sodara yang masih menjadi bagian dari keluarga tersebut. Teknik penentuan informan yang digunakan Purposive Sampling. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan Field Research. Validasi data menggunakan teknik triangulasi. Berawal pada tahun 1930an, dimana pemuda lebaksiu bernama Ahmad bin Kyai Abdul Karim bersama beberapa pemuda lainnya mengadu nasib dengan berjualan makanan atau mainan anak-anak pada setiap perayaan di kota-kota besar salah satunya perayaan di Kota Semarang tempat pertemuan pertama Ahmad bin Kyai Abdul Karim dan Abdullah bin Hasan Almalibary. Pertemuan tersebut kemudian membawa Abdullah sampai ke Lebaksiu dan mempersunting Masni binti Kyai Abdul Karim, pernikahan tersebut berujung pada menyebarnya resep martabak hingga menjadi khas Lebaksiu seperti sekarang. Melihat potensi yang dihasilkan oleh martabak Lebaksiu penting bagi pemerintah untuk lebih memperhatikan hal tersebut. Perhatian tersebut dapat ditunjukan dengan memberikan pelatihan-pelatihan bisnis bagi masyarakat yang sedang merintis bisnis berjualan martabak agar para pedagang martabak Lebaksiu yang biasanya berjualan kaki lima bisa meningkatkan bisnisnya ketingkat yang lebih tinggi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Martabak Lebaksiu has spread throughout Indonesia, ranging from Jakarta, Semarang, NTT, Papua and other regions in Indonesia, even getting into overseas one of them Jeddah Saudi Arabia. LBS become a trademark used by the merchant Martabak Lebaksiu, the name LBS itself is an abbreviation of Lebaksiu which refers to the District Lebaksiu Tegal District, where Martabak Lebaksiu originated where the majority of its citizens pitted fate to all over Indonesia by selling martabak. Behind the story of Martabak Lebaksiu there are history and stories ranging from the arrival of Indians to the Lebaksiu Martabak that broke more record as the largest Martabak in the year 2008. This research aims to describe the story of citizens of Lebaksiu Sub-district of Tegal Regency about "Martabak LBS". This research used qualitative methods. The research was conducted in Lebaksiu sub-district, Tegal. The target of this research is both of the founding of Martabak LBS, grandchildren, and relatives who are still part of the family. The technique of determining the informant used Purposive Sampling. Data Collection techniques using interviews, observations, and documentation. Data analysis techniques using Field Research. Data validation using triangulation techniques It started in the 1930s, where the Lebaksiu young man named Ahmad bin Kyai Abdul Karim along with several other youths were fighting fate by selling food or children's toys at every celebration in the big cities of one of the celebrations in the city of Semarang The first meeting place of Ahmad bin Kyai Abdul Karim and Abdullah bin Hasan Almalibary. The meeting then took Abdullah to Lebaksiu and edit Masni binti Kyai Abdul Karim, the wedding led to the spread of the recipe Martabak to become typical Lebaksiu as it is now. Seeing the potential produced by the Lebaksiu Martabak is important for the government to pay more attention to it. Such attention can be demonstrated by providing business training for the people who are pioneering businesses selling Martabak to make the merchants Lebaksiu that usually sell street five can improve their business level Higher.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save