Home
Login.
Artikelilmiahs
24086
Update
FRANSISKUS RIZKY YULIANTO
NIM
Judul Artikel
KOMUNIKASI TERAPEUTIK PERAWAT DENGAN PASIN GANGGUAN JIWA DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Gangguan jiwa merupakan sebuah perilaku yang tidak normal, baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Bias dikatakan juga bahwa gangguan jiwa merupakan gangguan dimana seseorang itu tidak bisa membedakan mana angan-angan dengan realita. Gangguan tersebut ditandai dengan Rasa putus asa, murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, dan pikiran-pikiran buruk. Salah satu solusi untuk menangani masalah tersebut adalah dengan dilakukannya terapi-terapi yang dapat dilakukan oleh perawat terhadap pasiennya. Urgensi dari penelitian ini adalah agar dapat memberikan wawasan mengenai cara berkomunikasi perawat dengan pasien gangguan jiwa melalui sebuah komunikasi terapeutik. Dengan begitu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses ataupun cara dalam melakukan komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat dengan pasien gangguan jiwa di RSUD Banyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualtitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa untuk melakukan sebuah komunikasi terapeutik dengan pasien gangguan jiwa terdapat proses komunikasi terapeutik yang dilakukan perawat dengan pasien ganggu8an jiwa yang terdiri dari tahap pra-interaksi, perkenalan, orientasi, kerja, dan terminasi. Dalam komunikasi terapeutik yang terjalin juga terdapat pula hambatan-hambatan yang dialami perawat dalam melakukan proses komunikasi terapeutik dengan pasien gangguan jiwa, dan hambatan tersebut dapat berasal dari dalam perawat seperti kemampuan pribadi yang harus ditingkatkan serta terbaginya focus antara pendidikan dan pekerjaan. Sementara itu, hambatan yang berasal dari luar diri perawat seperti orang tua pasien yang kurang kooperatif.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Mental disorder is an abnormal behavior, both physical and mental. It is also said that mental disorder is a disorder where a person cannot distinguish between wishful thinking and reality. The disorder is characterized by despair, moodiness, anxiety, forced actions (convulsive), hysteria, feeling weak, unable to achieve goals, fear, and bad thoughts. One solution to deal with this problem is to do therapies that can be done by nurses to their patients. The urgency of this research is to be able to provide insight into how nurses communicate with mental patients through therapeutic communication. That’s why this study aims to determine the process or method of conducting therapeutic communication by nurses with mental patients in Banyumas Hospital. The method used in this research is descriptive qualitative method. Data collection techniques used were observation, in-depth interviews, and documentation. The results of this study indicate that to conduct a therapeutic communication with mental patients there is a therapeutic communication process carried out by nurses with disturbed patients and souls consisting of the stages of pre-interaction, introduction, orientation, work, and termination. In therapeutic communication that is interwoven, there are also obstacles experienced by nurses in conducting the therapeutic communication process with mental patients, and these obstacles can come from within the nurse such as personal abilities that must be improved and the divided focus between education and work. Meanwhile, barriers originating from outside the nurses such as parents of patients who are less cooperative.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save