Home
Login.
Artikelilmiahs
23080
Update
DYAH EKA DAMAYANTI
NIM
Judul Artikel
KEANEKARAGAMAN GULMA PADA TANAMAN TEH (Camellia sinensis L.) DI PERKEBUNAN TEH NGLINGGO, SAMIGALUH, KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Perkebunan teh (Camellia sinensis L.) Nglinggo terletak di ketinggian 800-1.000 m dpl di ujung utara Pegunungan Menoreh yang masuk wilayah Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanaman teh adalah tanaman yang pucuk daunnya digunakan untuk membuat minuman. Kualitas teh dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti gulma. Keanekaragaman gulma terjadi karena perbedaan ketinggian tempat tumbuh gulma, sehingga pengaruh gulma terhadap tanaman teh berbeda di setiap ketinggian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keanekaragaman gulma pada ketinggian 800, 900, dan 1.000 m dpl yang tumbuh pada perkebunan teh Nglinggo dan mengetahui spesies gulma dominan pada ketinggian 800, 900, dan 1.000 m dpl yang tumbuh pada perkebunan teh Nglinggo, Samigaluh, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei menggunakan metode stratified sampling yaitu pada setiap ketinggian (800, 900, dan 1.000 m dpl) diambil 20 petak kuadrat dengan ukuran 50 cm x 50 cm dengan jarak petak 50 cm. Variabel bebas yang digunakan adalah ketinggian tempat. Variabel tergantung yang digunakan adalah keanekaragaman gulma. Parameter utama yang diamati adalah jumlah individu setiap spesies gulma, serta parameter pendukung yang diamati adalah suhu udara, kelembaban udara dan pH tanah. Data gulma yang didapat dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan indeks nilai penting. Hasil penelitian diperoleh 20 spesies gulma dari ketiga ketinggian. Spesies gulma yang ditemukan pada ketinggian 800, 900, dan 1.000 m dpl berturut-turut sebanyak 19, 13, dan 9 spesies. Indeks keanekaragaman pada ketinggian berbeda (800, 900, dan 1.000 m dpl) berturut-turut adalah 2,75; 2,01 dan; 1,97 yang termasuk ke dalam kategori keanekaragaman sedang. Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada ketinggian 800 m dpl yaitu sebesar 21,0% (Cyperus rotundus L.), pada ketinggian 900 m dpl INP sebesar 52,3% (Ageratum conyzoides L.), dan pada ketinggian 1.000 m dpl sebesar 36,3% (Ageratum conyzoides L.).
Abtrak (Bhs. Inggris)
Nglinggo tea (Camellia sinensis L.) plantation is located at an altitude of 800-1000 m asl at the northern end of Menoreh Mountains in the district of Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta Special Region. Tea plant is a plant that the young leaves are used to make tea drinks. Tea quality is influenced by environmental factors and weeds. Weed diversity occurs due to differences in altitude where weeds grow, so the effects of weeds on tea plants are different at each height. The purpose of this study were to find out the growing diversity of weeds at 800, 900, and 1.000 m asl in the Nglinggo Tea Plantation and to know the dominant weed species at 800, 900, 1.000 m asl growing on the Nglinggo Tea Plantation, Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta Special Territory. The method used in this research was survey using stratified sampling method that was at every height (800, 900, and 1,000 m asl) taken 20 square plot with size of 50 cm x 50 cm with a space of 50 cm. The independent variable used was the height of the place. The dependent variable used was the weed diversity. The main parameters observed were the number of individual weed species, and the observed parameters were air temperature, air humidity and soil pH. The weed data obtained were analyzed using the Shannon-Wiener diversity index and the important value index. The result showed 20 species of weeds from three heights. Weed species found at 800, 900, and 1,000 m asl were 19, 13, and 9 species, respectively. The index of diversity at different altitudes (800, 900, and 1,000 m asl) were 2.75; 2.01 and; 1.97 belonging to the category of medium diversity. The highest Import Value Index (INP) at an altitude of 800 m asl was 21,0% (Cyperus rotundus L.), at an altitude of 900 m asl of INP was 52,3% (Ageratum conyzoides L.), and at an altitude of 1,000 m asl was 36,3% (Ageratum conyzoides L.).
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save