Home
Login.
Artikelilmiahs
23053
Update
TUTI PURNAMASARI
NIM
Judul Artikel
Kinerja Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Banyumas Pada Program Warga Peduli AIDS Kampung Sri Rahayu Kelurahan Karangklesem
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Berdasarkan data yang dihimpun oleh Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Banyumas menunjukkan selama tahun 2006-2017 telah ditemukan kasus HIV dan AIDS sebanyak 3072 . Dalam kurun waktu tersebut, ditemukan sebanyak 2042 kasus HIV, 1030 kasus AIDS dan 269 kasus ditemukan meninggal dunia. Dimana Kecamatan Purwokerto Selatan berada di urutan kedua terbesar se-Kabupaten Banyumas dengn temuan 33 kasus HIV/AIDS dalam kurun tiga tahun yaitu 2015-2017. Berdasarkan peraturan Bupati No. 22 tahun 2018 tentang petunjuk pelaksanaan peraturan daerah Kabupaten Banyumas No. 14 tahun 2015 tentang penanggulangan HIV/AIDS, pasal 34 yang menyatakan: membentuk dan mengembangkan WPA (Warga Peduli AIDS) dapat dibentuk di tingkat kecamatan, kelurahan/desa, dusun/ kampung rukun warga, dan rukun tetangga. Warga Peduli AIDS baru di 13 kecamatan dan 24 kelurahan/desa. Padahal di Kabupaten Banyumas terdapat 27 kecamatan yang terbagi lagi atas 301 desa dan 30 kelurahan. Dapat disimpulkan, masih kurang dari 20% berdasarkan jumlah keseluruhan baik kecamatan maupun kelurahan/desa yang terdapat di Kabupaten Banyumas. Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui dan mendeskipsikan kinerja Komisi Penanggulangan AIDS dalam program Warga Peduli AIDS di Kampung Sri Rahayu Kelurahan Karangklesem. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pemillihan informan purposive sampling.Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah wawancara mendalam dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan yaitu model analisis interaktif Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja KPA Kabupaten Banyumas bersama dinas-dinas terkait dalam melakukan pencegahan HIV/AIDS melalui program WPA dianggap gagal, karena target sasaran, visi, misi, dan tujuan pembentukan WPA belum mencapai taerget. Kendala utama dalam pelaksanaan program WPA yaitu keterbatasan anggaran dan masih kurang aktifnya masyarakat. Hal tersebut berpengaruh pada aspek produktivitas, kualitas layanan, dan responsivitas. Sementara itu, untuk aspek akuntabilitas sudah cukup baik karena KPA Kabupaten Banyumas rutin memberikan laporan tahunan kepada pemerintah terkait dan mengupload sebagian datanya agar bisa diakses oleh masyarakat. Kata kunci: Kinerja, Komisi Penanggulangan AIDS, HIV/AIDS, program WPA
Abtrak (Bhs. Inggris)
Based on data compiled by the Banyumas District AIDS Commission shows that during 2006-2017 3072 cases of HIV and AIDS were found. During this period, 2042 cases of HIV were found, 1030 cases of AIDS and 269 cases were found dead. Where the South Purwokerto Subdistrict is the second largest in Banyumas Regency with the findings of 33 cases of HIV / AIDS in the three years, namely 2015-2017. Based on the Regulations of the Regent No. 22 of 2018 regarding the instructions for the implementation of the regional regulation of Banyumas Regency No. 14 of 2015 concerning HIV / AIDS prevention, article 34 which states: forming and developing WPA (AIDS Concerned Citizens) can be established at the sub-district, kelurahan / village, hamlet / neighborhood level, and neighborhood associations. New AIDS Care Residents in 13 sub-districts and 24 villages / villages. Whereas in Banyumas District there are 27 sub-districts divided into 301 villages and 30 villages. It can be concluded, it is still less than 20% based on the total number of both sub-districts and villages / villages in Banyumas Regency. This study aims to find out and describe the performance of the AIDS Commission in the AIDS Care Citizens program in Kampung Sri Rahayu, Karangklesem Village. The methodology used was qualitative descriptive with purposive sampling informant selection techniques. Data collection techniques used were in-depth interviews and documentation. The analytical method used is the interactive analysis model of Milles and Huberman and the validity of the data is tested by source triangulation. The results showed that the performance of KPA in Banyumas Regency along with related agencies in preventing HIV / AIDS through the WPA program was considered a failure, because the target, vision, mission, and objectives of the WPA had not yet reached taerget. The main constraints in implementing the WPA program are budget constraints and still less active community. This affects the aspects of productivity, service quality, and responsiveness. Meanwhile, the aspect of accountability is good enough because the KPA of Banyumas Regency routinely provides annual reports to the relevant government and uploads some of its data so that it can be accessed by the public. Keywords: Performance, AIDS, HIV / AIDS Commission, WPA program
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save