Home
Login.
Artikelilmiahs
23012
Update
KASRIATI HERUNINGSIH
NIM
Judul Artikel
SELEKSI JAMUR INDIGENOUS LIMBAH BATIK, UJI DEKOLORISASI PEWARNA INDIGOSOL BIRU DAN AKTIVITAS ENZIMNYA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Pewarna indigosol biru merupakan pewarna yang bersifat tahan terhadap degradasi dan karsinogenik, sehingga perlu dilakukan pengolahan yang efektif agar benar-benar aman apabila dibuang ke perairan. Pengolahan yang dapat diterapkan adalah pengolahan secara biologi menggunakan jamur indigenous limbah batik yang secara alami tumbuh dan telah beradaptasi dalam lingkungan limbah batik. Jamur yang hidup pada lingkungan terkontaminasi pewarna diketahui mampu mendegradasi senyawa – senyawa organik dan pencemar yang terdapat pada limbah pewarna. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui potensi jamur indigenous yang diisolasi dari limbah batik yang berbeda dalam mendekolorisasi pewarna indigosol biru, menyeleksi isolat jamur yang memiliki kemampuan paling besar dalam mendekolorisasi pewarna indigosol biru dan mengetahui aktivitas enzim pada jamur yang memiliki kemampuan paling besar dalam mendekolorisasi pewarna indigosol biru. Metode penelitian menggunakan metode eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 20 perlakuan dan 2 kali ulangan. Data persentase dekolorisasi pewarna yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis ragam dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 isolat jamur indigenous yang diisolasi dari limbah batik yang berbeda mampu mendekolorisasi pewarna indigosol biru. Isolat J3 merupakan isolat jamur yang paling efektif dalam mendekolorisasi pewarna indigosol biru dengan persentase dekolorisasi sebesar 92,572% dan rata – rata berat kering miselium sebesar 0,45 gram. Berdasarkan hasil identifikasi, isolat J3 merupakan isolat Penicillium sp. Isolat tersebut memiliki aktivitas enzim mangan peroksidase, lignin peroksidase dan lakase. Isolat Penicillium sp. memiliki aktivitas enzim lignin peroksidase lebih tinggi dibandingkan dengan enzim mangan peroksidase dan lakase.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Indigosol blue dye is a dye that is resistant to degradation and carcinogenic, so it is necessary to be processed effectively so it will be completely safe when discharged into water environment. Method that can be applied is a biological treatment using indigenous fungi batik waste that naturally grows and has adapted in batik waste environment. Fungi that live in dye-contaminated environments are known to be able to degrade organic compounds and contaminants found in dye waste. The purpose of this study is to know the potential of indigenous fungi isolated from different batik waste in decolorizing indigosol blue dyes, select the fungal isolates that have the greatest ability to decolorize indigosol blue dyes and to know the enzyme activity in fungi that have the greatest ability to decolorize indigosol blue dyes. The research method used experimental method with Completely Randomized Design consisted of 20 treatments and 2 replications. Percentage data of dye decolorization obtained were analyzed using variance analysis with 95% and 99% confidence level. The results showed that 20 isolates of indigenous fungi isolated from different batik wastes were able to decolourize indigosol blue dyes. Isolate J3 is the most effective fungal isolate in decolorizing indigosol blue dye with 92,572% decolorization percentage and average dry weight of mycelium 0,45 gram. Based on identification result, isolate J3 is isolate Penicillium sp. These isolates have enzyme activity of manganese peroxidase, lignin peroxidase and lacase. The enzyme activity of lignin peroxidase is higher than manganese peroxidase and lacase.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save