Home
Login.
Artikelilmiahs
22088
Update
PRIMAESTY KUSUMA RINDIANI
NIM
Judul Artikel
ANALISIS TINGKAT KESEJAHTERAAN KELUARGA PENGRAJIN GENTENG DI KECAMATAN PEJAGOAN KABUPATEN KEBUMEN
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini merupakan penelitian data primer pada pengrajin genteng sokka yang berada di Kecamatan Pejagoan. Penelitian Mengambil judul "Analisis Tingkat Kesejahteraan Keluarga Pengrajin di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen ".Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan keluarga pengrajin genteng sokka di Kecamatan Pejagoan Kabupaten Kebumen apakah sudah memenuhi kriteria indikator kesejahteraan yang dilihat dari standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) Kabupaten Kebumen tahun 2016 atau belum memenuhi kriteria standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL) dan garis kemiskinan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pengrajin genteng yang ada di Kecamatan Pejagoan. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 95 responden. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan indikator kesejahteraan yang dihitung menggunakan tabulasi. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, Rata-rata upah pengrajin adalah Rp 703.158/bulan, sebagian besar pengrajin menerima upah rata-rata sebesar Rp 687.662 sebanyak 77 orang atau sebesar 81,1 persen. Rata-rata pendapatan keluarga adalah Rp 1.080.526/bulan, sebagian besar rata-rata pendapatan keluarga pengrajin Rp858.088 sebanyak 68 orang atau 72 persen. Rata-rata pendapatan total keluarga pengrajin adalah Rp 1.777.368/bulan, sebanyak 67 orang atau sebesar 70,5 persen memiliki rata-rata pendapatan total sebesar Rp1.550.746. Rata-rata pendapatan perkapita pengrajin adalah Rp 475.781/bulan, sebanyak 60 orang atau sebesar 63,2persen memiliki rata-rata pendapatan total sebesar Rp367.542. Sebanyak 95 responden belum memenuhi tingkat kesejahteraan yang diukur dengan KHL karena besaran rata-rata pendapatan perkapita keluarga pengrajin yaitu Rp 475.781 berada dibawah nilai KHL Kabupaten Kebumen. Sebanyak 77 orang atau sebesar 81,1 persen berada diatas garis kemiskinan yang artinya tidak termasuk keluarga miskin dengan rata-rata pendapatan perkapita sebesar Rp520.530. Implikasi dari kesimpulan di atas yaitu (1)Memberikan inovasi-inovasi agar para pekerja yang berkategori umur dewasa muda tertarik untuk menggeluti sebagai pengraji genteng berbahan tanah liat dan melestarikan usaha produk unggulan Kabupaten Kebumen. (2)Diperlukannya campur tangan pemerintah Kebumen agar dapat memperluas pasar penjualan genteng sokka dan pembaruan alat produksi genteng sehingga mampu menghasilkan genteng dalam jumlah yang banyak dari sebelumnya. (3)Diperlukannya pelatihan-pelatihan agar para pengrajin yang memiliki pengalaman dengan kategori rendah bisa menghasilkan genteng secara efektif dan efisien.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research is a primary research on sokka tile craftsmen located in District Pejagoan. Research Mastering the title "Analysis of Welfare Level of Craftsman Family in Kecamatan Pejagoan Kebumen". The purpose of this research is to know the income of family of sokka tile craftsmen in Pejagoan Sub-district of Kebumen Regency whether there is already meet the criteria above. year 2016 or not yet meet the criteria of Decent Living (KHL) and texture of poverty. Population in this research is all tile craftsmen in Sub Pejagoan. The number of samples taken in this study were 95 respondents. Based on the results of research using welfare indicators calculated using tabulation. From the results of research that has been done, the average wage of craftsmen is Rp 703.158 / month, most craftsmen receive an average wage of Rp 687,662 as much as 77 people or 81.1 percent. The average family income is Rp 1,080,526 / month, most of the average family income of craftsmen Rp858.088 of 68 people or 72 percent. The average total income of the families of craftsmen is Rp 1,777,368 / month, 67 people or 70.5 percent have an average total income of Rp1,550,746. Average per capita income of craftsmen is Rp 475,781 / month, as many as 60 people or 63.2 percent have an average total income of Rp367,542. A total of 95 respondents have not met the level of welfare as measured by KHL because the average amount of income per capita family of craftsmen is Rp 475,781 is below the KHL value Kebumen regency. As many as 77 people or 81.1 percent are above the poverty line which means not including poor families with an average per capita income of Rp520,530. The implications of the above conclusions are: (1) Providing innovations so that the workers who categorized the age of young adults are interested to cultivate as a clay tile clerk and preserve the superior product business of Kebumen Regency. (2) The need of Kebumen government intervention in order to expand the market of sokka tile sales and renewal of production equipment tile so as to produce a lot of tile than before. (3) Training is required for craftsmen with low-grade experience to produce tiles effectively and efficiently.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save