Home
Login.
Artikelilmiahs
21121
Update
MARNIT HUTA SOIT
NIM
Judul Artikel
KONFLIK PEREBUTAN TANAH ANTARA MASYARAKAT KECAMATAN TELUK JAMBE BARAT KABUPATEN KARAWANG JAWA BARAT DENGAN PT. SUMBER AIR MAS PRATAMA PADA TAHUN 2014
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini menjelas dan menggambarkan konflik agraria perebutan tanah antara petani di tiga desa, yaitu Desa Margamulya, Desa Wanasari dan Desa Wanakerta, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, Jawa Barat dengan Perusahan Sumber Air Mas. Konflik lahan di Kecamatan Telukjambe memiliki riwayat yang dapat dirunut setidaknya hingga masa kolonial Belanda sampai masa reformasi. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Kemudian data dianalisis menggunakan metode analisis model interaktif Miles dan Huberman. Untuk menjamin validitas data, penelitian ini menggunakan teknik triangulasi data. Penanganan konflik agraria saat ini membutuhkan sebuah pendekatan holistik dan komprehensif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kronologi di lahan tiga desa yaitu Desa Wanasari, Wanakerta, dan Margamulya muncul saat PT Dasa Bagja terlibat dalam menyewa lahan milik masyarakat. Sebelumnya lahan tersebut adalah partikelir yang telah diredistribusi oleh pemerintah kepada masyarakat. Tiga tahun berlangsung kontrak ternyata terdapat pengalihan surat kepemilikan lahan oleh warga yang dibawa PT. Dasa Bagja kepada perusahaan lain. Hingga akhirnya jatuh kepada PT. Sumber Air Mas Pratama. Selama proses itu masyarakat masih tetap memanfaatkan lahannya. Akan tetapi, pada tahun 2000 PT. Sumber Air Mas Pratama mulai mengajukan ke pengadilan untuk melakukan pembebasan lahan. Runtutan kisah tersebut berpuncak pada Juni 2014 lalu, Alhasil, 9 petani dan 4 buruh yang melakukan aksi menolak eksekusi ditangkap, 10 buruh luka-luka dan 1 petani tertembak serta puluhan lainnya mendapat luka ringan karena tembakan gas air mata dan peluru karet. Kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini adalah bahwa konflik yang terjadi di Desa Wanasari, Desa Wanakerta dan Desa Margamulya merupakan konflik agararia structural. Konflik agraria struktural yang dimaksud disini merujuk pada pertentangan klaim yang berkepanjangan mengenai suatu bidang tanah, sumber daya alam dan wilayah kepunyaan rakyat. Masyarakat yang sedang berkonflik sebenarnya sudah mempunyai keinginan untuk menyelesaikan permasalahan tanah ini dan sudah sepakat dengan soal ganti rugi namun disisi lain ada sebagian masyarakat yang masih menolak soal ganti rugi dengan beranggapan bahwa ada yang ingin membeli tanah tersebut dengan harga yang lebih tinggi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research explains and illustrates agrarian conflicts of land struggle between farmers in three villages, Margamulya Village, Wanasari Village and Wanakerta Village, which is located in Telukjambe Barat, Karawang, West Java with Sumber Air Mas Company. Land conflicts in Telukjambe have a history that can be traced at least from the Dutch colonial period until the reform period. The research method used descriptive qualitative method with approach case study. The data obtained from observation, interview, and documentation study. Then the data were analyzed using Miles and Huberman interactive model analysis method. To ensure validity of the data, this research uses triangulation data technique. The current handling of agrarian conflicts requires a holistic and comprehensive approach. The results of this study indicate that chronology in the three villages of Wanasari, Wanakerta and Margamulya arises when PT Dasa Bagja involved in renting the land owned by citizens. Previously, it was a private land that has been redistributed by the government to the public. Three years under contract, there was a redirection of citizens land ownership certificates carried by PT. Dasa Bagja to other companies. Until the certificates was on PT. Sumber Air Mas Pratama hands. However in 2000, PT. Sumber Mas Mas Primary began filing to the court to conduct land acquisition. The demise of the story culminated in June 2014. As a result, 9 farmers and 4 workers who took action against the execution were arrested, 10 workers were injured and 1 farmer was shot and dozens of others were slightly wounded by tear gas and rubber bullets. The conclusion obtained in this research is the conflict that occurred in Wanasari Village, Wanakerta Village and Margamulya Village is a structural agararia conflict. The structural agrarian conflict referred to the clash of prolonged claims regarding a plot of land, natural resources and the territory of the people.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save