Home
Login.
Artikelilmiahs
21095
Update
HENDRAWAN WIBISONO
NIM
Judul Artikel
Evaluasi Strategi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas dalam Pembinaan Atlet Daerah
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Pemerintah memiliki program pembinaan terhadap atlet dalam rangka meningkatkan prestasi olahraga. Pada tataran tingkat wilayah, Kabupaten Banyumas memiliki program pembinaan atlet yang dijalankan Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata dan dibantu oleh komite olahraga nasional Indonesia agar lebih terpusat, di mana salah satu bentuk pembinaannya adalah pengadaan sarana prasarana olahraga. Tujuan dari pembinaan tersebut adalah untuk meningkatkan prestasi atlet di Kabupaten Banyumas. Prestasi atlet di Kabupaten Banyumas sudah baik, dengan berhasil bertahan di peringkat tiga besar selama tiga periode pekan olahraga Provinsi Jawa Tengah. Namun dalam program pengadaan sarana prasarana olahraga masih bisa dikatakan kurang karena masih banyak cabang olahraga unggulan yang tidak memiliki lapangan untuk berlatih. Dampaknya di balik peringkat yang berhasil dipertahankan tersebut ternyata terdapat penurunan jumlah perolehan medali yang diperoleh di dua periode terakhir Pekan Olahraga Provinsi Jawa Tengah. Hal tersebut mengindikasikan adanya penurunan prestasi yang dialami oleh atlet daerah di Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan teknik pemilihan informan purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Metode analisis yang digunakan adalah model analisis interaktif menurut Milles dan Huberman dan keabsahan data diuji dengan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembinaan atlet di Kabupaten Banyumas sudah berjalan baik. Melihat sudah ada beberapa strategi pembinaan yang berjalan seperti peningkatan SDM pelatih, try out/try in untuk atlet, dan pemusatan latihan untuk menghadapi kompetisi. Beberapa strategi pembinaan sudah berjalan, namun ada satu yang pelaksanaannya masih belum maksimal yaitu strategi pengadaan sarana prasarana olahraga sesuai dengan cabang olahraga unggulan. Fakta yang terjadi di lapangan adalah masih banyaknya cabang-cabang olahraga unggulan yang belum memiliki lapangan untuk berlatih. Hal tersebut disebabkan karena Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyumas dituntut selain meningkatkan prestasi atlet juga memperoleh pemasukan daerah. Dampak yang terjadi adalah dinas melakukan pengadaan sarpras olahraga yang lebih bersifat umum yang bisa digunakan dan disewakan untuk umum. Keterbatasan fasilitas sarana prasarana olahraga yang terjadi menyebabkan pembinaan atlet-atlet prioritas menjadi kurang optimal. Menanggapi hal tersebut Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten banyumas berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan fasilitas atlet, walaupun tidak semuanya terpenuhi dan sesuai standar. Pengalih fungsian beberapa sarpras yang bersifat umum menjadi tempat berlatih untuk atlet-atlet daerah menjadi salah satu solusi untuk program pembinaan yang sedang dijalankan saat ini guna meningkatkan prestasi daerah. Selain itu program pembinaan lain seperti try out atlet juga sudah dilakukan dengan tujuan atlet bisa berlatih di luar daerah di tempat yang memiliki fasilitas sarana prasarana olahraga yang lengkap yang sesuai dengan standar kompetisi seperti Kota Semarang dan Kota Surakarta sehingga atlet-atlet daerah bisa mempersiapkan diri dengan matang sebelum menghadapi kompetisi.
Abtrak (Bhs. Inggris)
The government has a coaching program for athletes in order to improve sports performance. At the level of the region, Banyumas Regency has an athlete training program run by the Department of Youth Sport Culture and Tourism and assisted by the national sports committee of Indonesia to be more centralized, where one form of coaching is the procurement of sports infrastructure facilities. The purpose of the coaching is to improve the performance of athletes in Banyumas Regency. Achievement of athletes in Banyumas Regency is good, with managed to survive in the top three for three periods of sports week of Central Java Province. But in the procurement program of sports infrastructure facilities can still be said less because there are still many superior sports that do not have a field to practice. The impact behind the successfully maintained rating is that there is a decrease in the number of medals earned in the last two periods of Central Java Sports Week. This indicates a decrease in performance experienced by athletes in the district of Banyumas. The research method used is qualitative method, with technique of selecting informant purposive sampling. Data collection is done through in-depth interviews, observation, and documentation. The analytical method used is an interactive analysis model according to Milles and Huberman and the validity of the data is tested by source triangulation. The results showed that coaching athletes in Banyumas Regency has been running well. See there are several coaching strategies that run like an increase in HR trainers, try out / try in for athletes, and training camp to face the competition. Some coaching strategies have been running, but there is one that the implementation is still not maximal is the strategy of procurement of sports infrastructure facilities in accordance with the superior sport. Facts that occur in the field is still a lot of superior sports that have no field to practice. This is because the Department of Youth Sports Culture and Tourism Banyumas district claimed in addition to improving the achievement of athletes also gain local revenue. The impact that occurs is the procurement service of sports sarpras more general that can be used and rented to the public. Limitations of sport infrastructure facilities that occur cause the coaching of athletes priorities become less optimal. Responding to that the Youth Office of Culture and Tourism Culture Banyumas try as much as possible to meet the needs of athletes facilities, although not all are met and according to standards. The switching function of some of the most common sarpras into training places for local athletes is one of the solutions for the current coaching program to improve local performance. In addition other coaching programs such as try out athletes have also been done with the aim of athletes can practice outside the area in place that has a complete facility of sports infrastructure in accordance with competition standards such as Semarang City and Surakarta City so that regional athletes can prepare themselves with mature before the competition.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save