Home
Login.
Artikelilmiahs
21030
Update
GIANI ALIYAH
NIM
Judul Artikel
PEREMPUAN SYIAH DAN GERAKAN SOSIAL BARU: PERJUANGAN KEBEBASAN BERAGAMA MUSLIMAH AHLULBAIT INDONESIA DI JAKARTA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Penelitian ini membahas tentang gerakan perempuan Syiah melalui organisasi Muslimah Ahlulbait Indonesia dalam memperjuangkan kebebasan beragama di Jakarta. Hal ini dikarenakan, keberadaan Syiah sebagai salah satu mazhab dalam Islam mengalami diskriminasi di tengah mazhab mainstream yang ada di Indonesia, yaitu Sunni. Diskriminasi terhadap kelompok Syiah di Indonesia termanifestasi dalam bentuk double stereotyping terutama bagi perempuan Syiah. Maka dari itu, fokus kajian diarahkan pada proses dan capaian gerakan dari Organisasi Muslimah Ahlulbait Indonesia untuk mendapatkan hak-hak kebebasan beragama. Dalam penulisannya, penelitian ini menggunakan perspektif pascastrukturalis dengan paradigma kritis dan pendekatan fenomenologi. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa gerakan perempuan Syiah melalui organisasi MAI dalam memperjuangkan kebebasan beragama di Jakarta merupakan bentuk dari gerakan reformis. Karena, gerakan perempuan Syiah melalui organisasi MAI lahir sebagai reaksi dari adanya inkonsistensi pemerintah dalam melindungi hak kebebasan beragama bagi kelompok minoritas seperti Syiah. Karena gerakan MAI berada dalam tataran ingin mengubah inkonsistensi pemerintah dalam melindungi HAM dan nilai terkait kebebasan beragama menjadi isu utama. Dalam proses gerakannya sendiri, MAI menggunakan beberapa strategi diantaranya adalah selain memperkuat infrastruktur organisasi melalui rekruitmen dan penyebar luasan wilayah cakupan organisasi, MAI juga melakukan strategi networking dengan membentuk jaringan dengan aktor-aktordan organisasi sosial yang dianggap berpengaruh seperti Sinta Wahid, KOWANI, HKTI, Pihak Kementerian PP&PA, akademisi dari UI, UIN Syarif Hidayatullah dan Universitas Paramadina. Selain itu, penerapan prinsip taqiyah juga dapat dikatakan merupakan strategi kulit bawang yang dilakukan MAI dalam membungkus program-program yang dilakukan, meskipun memang prinsip taqiyah sendiri merupakan penegasan dari dampak minimnya perlindungan negara terhadap kebebasan beragama. Dari sisi mobilisasi sumberdaya berupa materil dan non-materil juga diupayakan MAI meski segalanya belum dalam bentuk tetap dan mandiri.
Abtrak (Bhs. Inggris)
This research examine about Syiah’s women movement through Moeslemah Ahlulbait Indonesia (MAI) organization in struggle for freedom to have a religion in Jakarta. Syiah, as one of the mahzabs in Islam, experienced discrimination among other mahzabs in Indonesia, which is Sunni. Discrimination towards Syiah in Indonesia manifested in double stereotyping, especially towards Syiah’s women. Therefore, this research focused to the processes and achievements of Muslimah Ahlulbait Indonesia organization to achieve the rights to have a religion. This research use qualitative method with fenomenology approach and critical paradigm as its result and discussion base. The result of this research revealed that Syiah’s women movement through MAI is a form of reformer movement. That is because Syiah’s women movement through MAI appeared as a reaction towards government inconsistency in protecting the rights to have a religion for minority like Syiah. MAI’s movement wants to change the government inconsistency in protecting human rights and value related to freedom to have a religion, and it becomes the main issue. In the process, MAI used some strategies, such as strengthen the organization infrastructure through recruitment and expanding the organization’s scope. MAI also used networking strategy in building relationship with actors and social movement who are influential such as Sinta Wahid, KOWANI, HKTI, PP & PA Ministry Party, and academicians from University of Indonesia, University of Nation Moslem Syarif Hidayatullah, and Paramadina University. In addition, taqiyah principle is also one of the strategies that MAI used. This principle can be called as onion peel strategy in conceal every MAI programs, although this principle is a confirmation of the impact caused by the weakness of government’s protection. From mobilization side, MAI still make efforts to fulfill material and nonmaterial resources, despite it’s not in a permanent shape.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save