Home
Login.
Artikelilmiahs
20829
Update
M. TEGUH DWI BASUKI
NIM
Judul Artikel
ANALISIS KERAGAMAN GENETIK SEPULUHAKSESI CABAI MERAH (Capsicum annuum L.) INDONESIA MENGGUNAKAN MARKA RANDOM AMPLIFIED POLYMORPHIC DNA
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Cabai merupakan komoditas sayuran buah yang permintaannya cukup tinggi. Upaya perbaikan genetik merupakan salah satu alternatif pemuliaan tanaman yang tepat, guna mengendalikan karakter tanaman cabai. Informasi keragaman genetik tanaman pada tingkat individu maupun populasi perlu diketahui, sebagai dasar pertimbangan dalam menyusun strategi pemuliaan tanaman secara berkelanjutan. Penilaian keragaman genetik sepuluh aksesi tanaman cabai Indonesia dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan 11 marka molekuler. Template DNA cabai diamplifikasi menggunakan Touchdown-RAPD-PCR. Analisis klaster berdasarkan kesamaan genetik pada sepuluh aksesi cabai Indonesia menunjukkan pemisahan aksesi ke dalam dua klaster utama, yaitu: klaster I yang terdiri dari lima cabai kriting (F6_159_111, Laris, F6_120_159, Yuni, dan SSP) dan satu cabai rawit (Nero), dan klaster II yang terdiri dari empat cabai rawit (Sona, Sret, Kresna, dan Bangkok). Principle component analysis (PCA) menampilkan sepuluh aksesi cabai terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu: Kelompok 1 (F6_159-111, Laris, F6_120_159, Yuni, SSP, dan Nero), Kelompok 2 (Sret, Kresna, dan Bangkok), dan Kelompok 3 (Sona). Jarak kekerabatan genetik antara seluruh cabai merah keriting sangat dekat, seperti antara Yuni dengan SSP, sedangkan pada kelompok cabai rawit yaitu antara Kresna-Sret. Jarak kekerabatan genetik yang paling jauh ditemukan antara Nero dengan seluruh cabai rawit. Hasil ini memberikan informasi mengenai keragaman genetik cabai dan pedoman untuk memilih aksesi potensial untuk pemuliaan tanaman, yaitu aksesi dengan jarak keragaman genetik yang jauh. Pemuliaan tanaman dengan menggunakan tetua dengan keragaman genetik yang sama dapat menyebabkan timbulnya sifat-sifat agronomi yang tidak baik, seperti suseptibilitas terhadap hama dan penyakit dan produktivitas rendah.
Abtrak (Bhs. Inggris)
Pepper is a fruit vegetable commodity which is important in Indonesia. Genetic improvement through breeding program could be used to develop new variety with particular traits. Information on genetic diversity of germplasm is valuable to determine important individuals for breeding. In order to assess genetic diversity of ten pepper accessions, we performed touchdown-RAPD-PCR using 11 genetic markers. Ten accessions were divided into two groups, i.e. cluster I, consisting of five long curly pointed pepper (F6_159_111, Laris, F6_120_159, Yuni, and SSP) and one small pepper (Nero), and cluster II, consisting of four small peppers (Sona, Sret, Kresna, and Bangkok) based on cluster analysis. Principle Component Analysis (PCA) showed three groups of accessions: Group 1 (F6_159-111, Laris, F6_120_159, Yuni, SSP, and Nero), Group 2 (Sret, Kresna, and Bangkok) and Group 3 (Sona). Genetic distance between accessions described close genetic relationship among all long pointed pepper, including Yuni to SSP and between Kresna to Sret. In contrast, higher genetic dissimilarity were observed Nero to all small pepper accessions. These results give information on genetic diversities and guidance to select potential accessions for breeding program, particularly accessions with higher genetic dissimilarities.
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save