Home
Login.
Artikelilmiahs
19675
Update
KINANTHI DEWI MUTIEK
NIM
Judul Artikel
HUBUNGAN POLA KONSUMSI INHIBITOR, ENHANCER, DAN SUMBER FE DENGAN ANEMIA PADA REMAJA PUTRI DI KABUPATEN BANYUMAS
Abstrak (Bhs. Indonesia)
Latar Belakang : Anemia merupakan masalah medik yang paling sering dijumpai di seluruh dunia. Penentuan diet yang tepat untuk mengatasi anemia Fe adalah dengan kombinasi diet sumber Fe dan enhancer Fe, serta rendah inhibitor Fe. Penelitian ini bertujuan untuk mengenai hubungan pola konsumsi inhibitor, enhancer dan Fe dengan kejadian anemia remaja putri di Kabupaten Banyumas Metodologi : Penelitian ini bersifat analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Di lakukan di wilayah kerja Puskesmas 1 Kembaran dan Puskesmas 1 Kedungbanteng kabupaten Banyumas pada bulan Maret-September 2017. Sampel yang di ambil 78 dengan metode classter random sampling. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat dengan uji kai kuadrat. Hasil Penelitian : Sebesar 21,8% responden mengalami anemia dimana enhancer yang biasa di konsumsi adalah daging ayam (53,8%) 1-3x/minggu dan jeruk (38,5%). Inhibitor yang sering di konsumsi >1x sehari adalah teh (42,3%). Sumber Fe heme yang biasa di konsumsi ayam (53,8%) dan sumber Fe non heme >1x sehari yaitu tempe (37,2%) dan tahu (33,3%). Hasil analisis bivariat didapatkan hubungan enhancer Fe dengan anemia nilai p = 0.504, hubungan inhibitor Fe dengan anemia nilai p = 0.021 dan hubngan sumber Fe dengan anemia nilai p= 0.459. Kesimpulan ; Tidak ada hubungan antara pola konsumsi enhancer dan sumber Fe dengan anemia remaja putri, dan ada hubungan antara pola konsumsi inhibitor fe dengan anemia remaja putri. Kata Kunci : Enhancer Fe, Inhibitor Fe, Sumber Fe, Anemia
Abtrak (Bhs. Inggris)
Background : Anemia is the most common medical problem in the world. The precise determination of diet to overcome Fe anemia is a combination of high-grade dietary Fe and Fe enhancer, and low Fe inhibitors. This study aims to determine the relationship of consumption patterns of inhibitors, enhancers and Fe with the incidence of anemia of adolescent girls in Banyumas District Metods : This research is analytical descriptive by using cross sectional approach. Implemented in the work area of Puskesmas 1 Kembaran and Puskesmas 1 Kedungbanteng Banyumas in March-September 2017. Samples taken 78 by the method of classter random sampling, tested with chi square test. Result : A total of 21.8% of respondents had anemia where the usual enhancers in consumption were chicken meat (53.8%) and oranges (38.5%). The inhibitor consumed is tea (42.3%). The usual sources of Fe heme in chicken consumption (53.8%) and the source of Fe non heme were tempe (37.2%) and tofu (33.3%). The result of bivariate analysis showed the correlation of Fe with anemia p value = 0,504, Fe inhibitor relationship with anemia p value = 0.021 and Fe source with anemia p value = 0.459. Conclusion : No correlation between consumption enhancer pattern and Fe source with adolescent anemia, and there was a correlation between consumption inhibitor with adolescent girls anemia. Keywords : Enhancer Fe, Inhibitor Fe, Fe, Anemia
Kata kunci
Pembimbing 1
Pembimbing 2
Pembimbing 3
Tahun
Jumlah Halaman
Save